Sejarah Rokok

Sejarah Rokok – Dewasa ini rokok semakin gencar meluas di bermacam tempat. Banyak negara industri yang menilai bahwa merokok telah menjadi perilaku yang secara sosial dianggap kurang biasa untuk diterima. Hal ini ialah hasil penyuluhan yang intensif, bukan saja dilaksanakan oleh pemerintah, melainkan oleh pihak lembaga swadaya masyarakat dan juga pihak perusahaan- perusahaan. 

Di negara berkembang, penyuluhan tentang bahaya merokok belum dilaksanakan secara intensif. Hal ini selain karena industri rokok merupakan sumber pemasukan bagi negara dan sumber kesempatan kerja, juga karena di beberapa besar negara negara sedang berkembang, dana untuk ini walaupun ada, benar-benar kecil dibandingi dengan dana yang dipergunakan oleh perusahaan-perusahaan rokok untuk memasarkan rokok. Industri rokok melaksanakan secara agresif dan dengan mengaitkan merokok dengan gaya hidup modern, masyarakat khususnya remaja yang paling benar-benar terpengaruh. 

Sejarah Asal- usul Rokok 
Sejarah Rokok
Sejarah Rokok

Sejarah Rokok secara Global
Sejarah rokok hakekatnya dimulai dari mengunyah tembakau dan mengisap tembakau melalui sebuah pipa yang dijalankan oleh warga asli benua Amerika (Maya, Aztec dan Indian) sejak 1000 tahun sebelum masehi. Sebuah kebiasaan membakar tembakau yang mereka laksanakan ialah untuk menunjukkan persahabatan dan persaudaraan ketika beberapa suku yang berbeda berkumpul, serta sebagai ritual pengobatan. Tak lama satelah itu kru Columbus membawa tembakau beserta kebiasaan mengunyah dan membakar melalui pipa ini ke “peradaban” di Inggris. Namun yang lebih berperan ialah seorang diplomat dan petualang perancis-lah yang menyebarkan popularitas rokok di seantero Eropa, orang ini ialah Jean Nicot, darimana istilah nikotin yang kita ketahui selama ini berasal dari kata (Nicot).Tetapi catatan sejarah rokok lain mengatakan, kebiasaan rokok dan merokok yang lebih tua berasal dari Turki semenjak jangka waktu dinasti Ottoman. 

Menariknya Setelah permintaan tembakau meningkat di Eropa, budidaya tembakau mulai dipelajari dengan serius khususnya tembakau Virginia yang ditanam di Amerika. John Rolfe ialah orang pertama yang berhasil menanam tembakau dalam skala besar, yang kemudian diikuti oleh perdagangan dan pengiriman tembakau dari AS ke Eropa. Secara ilmiah, buku petunjuk bertanam tembakau pertama kali diterbitkan di Inggris pada tahun 1855. 

Sejarah Rokok di Indonesia 
Dari catatan sejarah umumya disimpulkan bahwa yang kali pertama memperkenalkan tembakau ke Nusantara ialah Belanda. Tepatnya ketika ekspedisi pimpinan Cornelis de Houtman mencapai Banten pada 1596. tak terang dengan cara apa tembakau di konsumsi ketika itu, namun 10 tahun setelahnya mulai menyebar isu bahwa merokok merupakan kegiatan populer di kalangan elit Banten. 

Salah satu bukti awal yang menunjukkan bahwa tembakau telah dikonsumsi di pulau Jawa bisa ditemukan di Kartasura. Dikisahkan bahwa Raja Amangkurat I (1646-1677) biasa menikmati rokok dengan pipa sambil ditemani oleh 30 pelayan wanitanya. Namun bukan sejarah bila tak dilingkupi mitos. Sebuah legenda percintaan klasik menyertai kelahiran rokok di Indonesia sehingga membuatnya menjadi sebuah fenomena kultural ketimbang semata-mata sebuah komoditas di pasar. Seperti akan kita lihat nanti, akar kultural rokok ini tak pernah lepas meskipun industri rokok telah mencapai level masif seperti sekarang. 

Di Indonesia sejarah rokok timbul pada tahun 1880 , Haji Jamahri dari Kudus ialah orang yang pertamakali meramu tembakau dengan cengkeh. Tujuan awal Haji Jamahri ialah mencari obat penyakit asma yang dideritanya, namun pada akhirnya rokok racikan Jamahri menjadi terkenal. Istilah Kretek ialah sebutan khas untuk menamai rokok asal Indonesia, istilah ini berasal dari bunyi rokok ketika disedot yang diakibatkan oleh letupan cengkeh (kretek) 

Fenomena Rokok di Indonesia 
Peneliti Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Abdillah Ahsan mengatakan jumlah perokok di Indonesia terus meroket. Apabila tak dihentikan, jumlah itu akan terus membesar. 

“Tahun 1995, jumlah perokok di Indonesia ialah 34,7 juta jiwa. Tahun 2007, jumlah itu telah melonjak nyaris dua kali lipat, 65,2 juta perokok,” ujar Abdillah ketika ditemui di kantor Kementrian Kesehatan, Jumat, 25 Mei 2012. Abdillah menambahkan, apabila angka total perokok hal yang demikian dijabarkan berdasarkan gender, maka ditemukan juga peningkatan jumlah perokok yang signifikan pada Macam kelamin pria atauapun perempuan. Pada kategori pria, ditemukan peningkatan jumlah perokok nyaris dua kali lipat dari rentang waktu 1995-2007. Pada tahun 2007, jumlah perokok pria mencapai angka 60,4 juta perokok dari yang sebelumnya 33,8 juta pada tahun 1995. Sementara itu, pada kategori perempuan, jumlah perokok meningkat empat kali lipat pada rentang waktu 1995-2007. Tahun 2007, ada 4,8 juta perempuan perokok dari yang sebelumnya hanya 1,1 juta perokok pada tahun 1995. 

“Peningkatan jumlah hal yang demikian sebagai dasar bukti bahwa beberapa besar rakyat Indonesia telah kecanduan rokok. Pada masa krisis 1998 saja, jumlah itu terus meningkat,” ujar Abdillah menjelaskan. Selain jumlah perokok total yang meroket,Abdillah mengatakan jumlah perokok anak-anak dengan rentang umur 10-14 tahun juga perlu diperhatikan. Pasalnya, lonjakan angkanya sudah mengkhawatirkan. Abdillah menyatakan bahwa pada tahun 2007, jumlah perokok anak telah mencapai angka 426.214 jiwa. Padahal, pada tahun 1995, jumlah perokok anak hanyalah seperenamnya yaitu 71.126. Abdillah menambahkan, peningkatan jumlah perokok hal yang demikian di satu sisi disebabkan karena harga rokok yang makin terjangkau. Ia menjelaskan, apabila harga rokok dibandingi jumlah pendapatan perkapita nasional, prosentasenya hanyalah 3 persen. 

Terakhir, Abdillah mengatakan ada lima rekomendasi dari dia untuk menekan jumlah perokok. Adapun kelima rekomendasi itu ialah larang iklan serta csr rokok, pasang peringatan berukuran besar di bungkus rokok, berlakukan wilayah tanpa rokok, naikkan cukai hasil tembakau, dan naikkan PPN rokok dari 8,4 persen menjadi 10 persen. 

Dan seperti yang dikutip dari berita VOA, 27 Mei 2012, dengan judul artikel “Perokok Anak di Bawah 10 tahun di Indonesia capai 239.000 orang”, yang memberitakan tentang usia perokok di Indonesia sekarang ini sudah menjangkau anak-anak. Dan hal ini menyebabkan Indonesia sebagai satu-satunya negara di dunia dengan sebutan baby smoker (perokok anak). Tercatat selama tahun 2008 hingga dengan 2012, jumlah perokok di bawah umur 10 tahun mencapai 239.000 orang. Sementara antara usia 10 hingga 14 tahun mencapai 1,2 juta orang. 

Tentunya dari data diatas membuat kita yang peduli dengan anak-anak menjadi miris dengan jumlah perokok anak di Indonesia. Mengapa bisa sebanyak itu jumlahnya ?. Mungkin itulah pertanyaan yang ada di benak kita sekarang ini. Tetapi itu lah kenyataannya, kita bukan berada di dunia mimpi bahwa jumlah perokok anak sejumlah hal yang demikian hanyalah sebuah mimpi. Hey.. bangun. Ini bukan dunia mimpi, melainkan dunia nyata. Ya, ini lah realita yang terjadi sekarang ini. Yang menjadi pertanyaan bagi segala orang, entah itu orang tua si anak, saudara si anak, tetangga si anak, atau rekan kerja si anak, masihkah peduli dengan fenomena hal yang demikian diatas, agar sedikit saja mau mengingatkan si anak bahwa merokok itu bisa mengakibatkan hal buruk bagi kesehatan berupa penyakit yang bisa mengancam nyawa mereka. Dan disertai sikap tegas yang sepatutnya dijalankan oleh orang tua demi kesehatan si anak kelak di masa depannya. 

Fenomena anak-anak yang menjadi pe-rokok aktif ataupun pasif di Indonesia ibarat seperti gunung es yang benar-benar sulit sekali dibendung. bila gunung es itu ibarat strata piramida, meskipun puncak tertinggi bukan diisi oleh perokok anak-anak namun melainkan orang dewasa. Dan di tengah-tengah strata piramida itu bercampur golongan usia muda hingga dengan usia dewasa. Namun, di dasar strata piramida hal yang demikian terdapat benar-benar banyak sekali sejumlah perokok anak- anak. Ini ialah realita yang terjadi hingga ketika ini, dan tak ada seorang pun yang bisa menyangkalnya. Fenomena ini berlangsung tiap harinya. bila anda berjalan atau berpergian ke sebuah tempat, sempatkan lah mengamati-lihat sisi lain kehidupan ini, dalam kata lainnya fenomena dari perokok hal yang demikian. Tepatnya di sebuah jalan (raya), di lampu merah, di terminal bus, di stasiun kereta, ataupun di sudut-sudut berupa gang-gang sempit di Ibukota, di tempat-tempat hiburan, dan bahkan di sebuah perkampungan (daerah), dan tempat lainnya. Aku yakin, anda akan menemukan entah individu atau segerombolan anak kecil yang tengah asyik mengisap rokok, meskipun mereka tak senantiasa terlihat tiap ketika, alias samar- samar. Banyak alasan yang melatar-belakangi mengapa anak-anak ikut-ikutan menjadi perokok, dan celakanya diantara mereka menjadi perokok aktif, meskipun beberapa menjadi perokok pasif. 



Paling populer sejak tahun 2010 yang lalu dan hingga terdengar hingga ke mancanegara ialah seorang anak kecil berumur 2 Tahun, berasal dari daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, dengan inisial nama (AR) yang menjadi perokok aktif sejak berusia 11 bulan. Tak bisa dibayangkan bagaimana bisa seorang anak kecil berusia 11 bulan mengenal rokok ?. Jangankan mengenal, terlebih lagi AR benar-benar menggemari rokok. Ya, perlu digaris bawahi menggemari, karena dalam sehari AR bisa menghabiskan 40 batang rokok. Tak bisa dicerna dengan logika bagaimana kedua orang tuanya membiarkan AR begitu saja menikmati rokok. Membiarkan disini bukan berarti tanpa usaha (memperbaiki). Kedua orang tua AR sudah berusaha namun tak bisa mencegah AR untuk stop merokok. bila dicegah, AR akan marah dan berteriak-teriak sambil membenturkan kepalanya ke dinding. Berita ini pun santer terdengar hingga ke media di negara Inggris, dan negara lainnya yang seolah berlomba-lomba meliput kehidupan AR, dan memang Media Inggris, The Sun, turun ke lapangan mewawancarai Ibu dari AR beberapa waktu yang lalu. 

Lalu, berita AR yang sudah tak terdengar gaungnya lagi di tahun 2012 ini, karena AR sendiri yang dibantu oleh pihak dari KOMNASPA, sudah bisa meminimalisasikan dalam mengkonsumsi rokok hingga hingga tahap stop. Di tahun 2012 ini, fenomena yang sempat melanda AR kembali terjadi, dan sekarang menimpa seorang anak kecil juga yang kini berusia 8 tahun dengan inisial nama (HI) berasal dari daerah Karawang, Sukabumi, yang sudah menjadi perokok aktif sejak berumur 4 tahun dan menghabiskan dua hingga empat bungkus rokok tiap harinya. Tak bisa dibayangkan bukan bagaimana bisa selama 4 tahun keluarga HI tak bisa menghentikan kebiasaan buruk HI. Meskipun segala cara telah dijalankan oleh kedua orang tua HI untuk menghentikan kecanduan rokok anaknya, seperti berobat ke orang pintar (paranormal) hingga ke dokter. hingga tak memberikan uang jajan satu rupiah pun kepada HI. Namun, segala usaha itu seolah sia-sia saja karena HI masih tetap saja merokok. Meskipun tak diberikan uang oleh kedua orang tuanya, HI menyiasatinya dengan sehari-harinya bekerja sebagai tukang parkir. Dan bisa ditebak dengan mudah, hasil kerja kerasnya menjadi tukang parkir dibelikan untuk apa. Ya, dibelikan untuk beberapa bungkus rokok dan mengkonsumsinya. Kabar baiknya, berita tentang HI ini segera ditindak lanjuti oleh KOMNASPA, dan Melaksanakan karantina kepada HI di sebuah rumah sakit di bilangan Jakarta. Melaksanakan karantina dalam artian disini ialah menghadirkan dunia anak-anak yang memang sudah seharusnya dirasakan oleh HI, dan bukan dunia dewasa yang selama ini dijalankannya selama 4 tahun belakangan ini. Dan memang, terhitung bulan April kemarin, HI sudah sembuh dari ketergantungan rokok. 

Dari dua kasus diatas memang sudah semestinya sepenuhnya kekeliruan hal yang demikian tak ditimpakan kepada kedua orang tua mereka, ataupun sanak keluarga yang tinggal satu rumah dengan AR dan HI. Mungkin yang menjadi pertanyaan orang-orang ialah “Kenapa tak bisa bersikap tegas melarang anaknya merokok 

?.” Mungkin saja orang tua AR dan HI sudah bersikap tegas, namun tegas dengan cara mereka masing-masing. namun cara hal yang demikian nyatanya belum cukup untuk meredam keinginan anaknya kepada rokok. bila memang kekeliruan ini mesti sepenuhnya ditimpakan kepada mereka, maka ini tak adil. Kenapa ?. Karena sejatinya kebiasaan buruk yang menimpa AR dan HI juga karena pengaruh lingkungan sekitar yang membuat keduanya menjadi tertarik dengan sebatang rokok dan lama-kelamaan mengkonsumsi hingga beberapa bungkus rokok, dan hingga menjadi perokok aktif.