Sejarah Perkembangan Kamera Dari Masa Ke Masa

Sejarah Perkembangan Kamera Dari Masa Ke MasaKamera merupakan alat paling populer dalam kesibukan fotografi. Nama ini didapat dari camera obscura, bahasa Latin untuk “ruang gelap”, mekanisme awal untuk memproyeksikan tampilan di mana suatu ruangan berfungsi seperti cara kerja kamera fotografis yang modern, Selain tak ada cara pada waktu itu untuk mencatat tampilan gambarnya selain secara manual mengikuti jejaknya. Dalam dunia fotografi, kamera merupakan suatu peranti untuk membentuk dan merekam suatu bayangan potret pada lembaran film. Pada kamera televisi, sistem lensa membentuk gambar pada sebuah lempeng yang peka cahaya. Lempeng ini akan memancarkan elektron ke lempeng target bila terkena cahaya. Selanjutnya, pancaran elektron itu diperlakukan secara elektronik. diketahui banyak Macam kamera potret.
A. Sejarah kamera
Kamera merupakan alat yang berfungsi dan mampu untuk menangkap dan mengabadikan gambar/image. Kamera pertama kali disebut sebagai camera obscura, yang berasal dari bahasa latin yang berarti ruang gelap. Camera obscura merupakan sebuah alat yang terdiri dari ruang gelap atau kotak, yang bisa memantulkan cahaya melalui penggunaan dua buah lensa konveks, kemudian menempatkan gambar objek eksternal hal yang demikian pada sebuah kertas/film, film hal yang demikian diletakkan pada pusat fokus dari lensa hal yang demikian. Camera obscura yang pertama kalinya ditemukan oleh seorang ilmuwan Muslim yang bernama Alhazen, hal hal yang demikian terdapat seperti yang dijelaskan pada bukunya yang berjudul Books of Optics (1015-1021).
Kamera obscura
Kamera obscura 
Sementara di tahun 1660-an ilmuwan asal Inggris Robert Boyle dan asistennya Robert Hookemenemukan portable camera obscura. Namun kamera pertama yang cukup praktis dan cukup kecil untuk bisa digunakan dalam bidang fotografi ditemukan pertama kali oleh Johann Zahn, penemuan hal yang demikian terjadi pada tahun 1685. Kamera fotografi pada mulanya banyak yang memakai prinsip model Zahn, dimana senantiasa menggunakan slide tambahan yang digunakan untuk memfokuskan objek. Sistem hal yang demikian merupakan dengan memberikan tambahan sebuah plat sensitif di depan lensa kamera hal yang demikian tiap-tiap sebelum Melaksanakan pengambilan gambar.
Kamera portable obscura
Kamera portable obscura
Kamera terus berlanjut, Jacques Daguerre merupakan salah satu dari orang-orang yang berperan dalam perkembangan teknologi kamera, dan sekaligus memberikan jasa pada perkembangan dunia fotogarfi kita. Daguerre (begitu ia biasa dipanggil) dilahirkan tahun 1787 di kotaCormeilles di Perancis Utara. pada waktu muda, Jacques Daguerre merupakan seorang seniman. Pada umur 30-an Daguerre merancang diograma, yang dimaksud dengan diograma merupakan barisan lukisan pemandangan yang mempesona bagusnya, dipertunjukkan dengan bantuan efek cahaya. SementaraDaguerre mengerjakan pekerjaannya hal yang demikian, Daguerre menjadi tertarik dengan pengembangan suatu mekanisme untuk secara otomatis melukiskan kembali pemandangan yang ada di dunia tanpa menggunakan kuas atau cat, yaitu tak lain merupakan KAMERA.
Di tahun 1827 Daguerre bertemu dengan Joseph Nicephore Niepce yang juga sedang mencoba –yang sejauh itu lebih sukses– menciptakan kamera. Dua tahun kemudian mereka bekerjasama. Namun di tahun 1833 Niepce meninggal, akan tetapi Daguerre tetap melanjutkan percobaannya. Menjelang tahun 1837 ia berhasil mengembangkan sebuah sistem praktis fotografi yang disebutnyadaguerreotype. Tahun 1839 Daguerre memberitahu publik secara terbuka tanpa mempatenkannya. Sebagai imbalan, pemerintah Perancis menghadiahkan pensiun seumur hidup kepada Daguerre ataupun anak Niepce. Pengumuman penemuan Daguerre menimbulkan kegemparan penduduk pada ketika itu dan ia menjadi seorang pahlawan yang ditaburi berjenis-jenis macam penghormatan serta penghargaan, sementara Sistem daguerreotype dengan cepat berkembang dan banyak digunakan oleh khalayak. Daguerre sendiri segera pensiun. Dia meninggal tahun 1851 di kota asalnya dekat Paris.
Seiring dengan berjalannya waktu, perkembangan teknologi kamera semakin hari berkembang semakin pesat. Fungsi dan kebutuhan penggunaanya pun semakin luas dirasakan oleh berjenis-jenis pihak. Kamera tak hanya digunakan sekedar untuk menangkap objek yang berfungsi sebagai kenang-kenangan semata, tetapi juga digunakan untuk menangkap objek yang sedang bergerak. Sebut saja perkembangannya kemudian seperti kamera video, kamera mikro, kamera sensor dan lain sebagainya. Perkembangannya pun telah meliputi berjenis-jenis bidang, seperti pada bidang sinematografi, pendidikan, kedokteran, dan bahkan hingga pada bidang sistem pertahanan dan keamanan pun tak terlepas dari penggunaan teknologi kamera ini.
B. Sejarah Film 
Film atau rollfilm merupakan media yang menyimpan gambar negatif dari sebuah foto. Gambar negatif ini kemudian diproses dengan cara-cara tertentu agar gambarnya bisa tercetak pada media lain (kertas), dan jadilah sebuah foto.
Perkembangan awal dari film merupakan lempengan timah/logam yang dipergunakan oleh Niépce, Daguerre dan Talbot untuk merekam gambar yang dihasilkan dari alat mereka masing-masing. Akan tetapi lempengan yang telah dilapisi oleh berjenis-jenis macam zat kimia itu, tidaklah bisa disebut sebagai film karena gambar diwujudkan, tercetak pada lempengan itu juga. Meski definisi film merupakan media yang menyimpan gambar negatif, untuk kemudian diproses agar bisa tercetak pada media lain.
Adapun film seperti yang kita kenal sekarang ini, ditemukan oleh George Eastman, pendiri dari perusahaan Kodak, pada tahun 1884. Film Macam pertama ini berupa kertas yang diolesi dengan jel khusus yang kering. Baru pada tahun 1889, Eastman berinovasi dengan membuat film berbahan plastik transparan. Film ini terbuat dari bahan-bahan yang mudah terbakar, yaitu plastik khusus yang dicampur dengan nitrat dan kapur barus.
Pengembangan pun terus dijalankan, film yang lebih modern dan biasa kita gunakan terdiri 3 hingga 20 lapisan, dan merupakan campuran dari berjenis-jenis bahan kimia. Adapun unsur-unsur yang terdapat pada film itu akan menentukan sensitifitas, kontras, resolusi dan efek-efek lain pada foto yang diwujudkan.
Film yang biasa digunakan
Film yang biasa digunakan
Menjelang akhir abad 20, timbul film Macam baru. Film baru itu merupakan film elektronik (media penyimpanan data) yang digunakan pada kamera digital. Karena lebih murah dan bisa digunakan berulang-ulang, kini orang lebih memilih untuk memanfaatkan fotografi digital dan film elektronik tadi. Hasilnya pun bisa menyamai bahkan melebihi kualitas dari foto yang dihasilkan film konvensional, karena fotografi digital bisa menggunakan format file gambar tanpa kompresi yang dinamai RAW.
3. Sejarah Kertas Foto
Berbicara tentang kertas foto berarti kita berbicara tentang media di mana sebuah gambar tercetak dan akhirnya disebut sebagai sebuah foto. Definisi yang lebih tepat, kertas foto merupakan sebuah kertas yang peka akan cahaya, sehingga bisa dibubuhi gambar hasil fotografi di atasnya. Akan tetapi, pada era fotografi digital ini, pengertian dari kertas foto menjadi bergeser. Kini, kertas foto diartikan sebagai kertas apapun yang bisa dimanfaatkan untuk mencetak foto dengan kualitas bagus (tentunya dengan bantuan printer atau alat cetak lain). Jadi, apakah itu kertas glossy, doff ataupun Macam kertas lainnya, asalkan kertas itu bisa digunakan untuk mencetak foto dengan bagus, maka bisa disebut sebagai kertas foto.
Kertas foto hakekatnya merupakan kertas khusus yang dilapisi beberapa zat kimia agar kertas itu bisa digunakan untuk mencetak foto yang berasal dari film negatif. Bila kita menelusuri sejarah awal ditemukannya media untuk mencetak foto ini, maka kita akan bertemu kembali dengan Joseph Nicéphore Niépce yang berhasil membuat foto pertama pada tahun 1926. ketika itu ia melapisi sebuah lempengan timah dengan beberapa zat kimia, agar bisa merekam gambar yang terproyeksi dari kamera obscuranya. Penjelasan lengkapnya bisa dibaca kembali pada skor Sejarah Kamera Foto.
Konsep yang dipakai Niépce untuk membuat sebuah lempengan logam menjadi peka cahaya ini, kemudian terus dioptimalkan hingga pada tahun 1880an, George Eastman berhasil menggunakan kertas khusus untuk mencetak foto dari film negatif.
4. Fotografi Digital
Fotografi digital merupakan salah satu inovasi terbaik dalam dunia fotografi. Kehadirannya telah mengubah paradigma masyarakat yang menganggap bahwa fotografi merupakan suatu bidang yang mahal dan sulit untuk dikuasai. Fotografi digital benar-benar bisa memberikan kepraktisan dan kemudahan bagi tiap-tiap orang untuk membuat sebuah foto yang bagus. Dengan perkembangan teknologi yang pesat, dan beragam fitur untuk membuat foto yang bagus, timbul sebuah ungkapan bahwa tiap-tiap orang bisa menjadi fotografer profesional.
Bila ditelusuri dari sejarahnya, maka kita akan kembali ke tahun 1960an. Di mana dunia sedang mengalami revolusi besar-besaran di bidang teknologi digital dan elektronik. Eugene F. Lally, seorang teknisi dari Jet Propulsion Laboratory NASA merupakan orang pertama yang mencetuskan ide untuk mendigitalisasi sebuah foto. ketika itu tujuannya merupakan untuk mempermudah pengiriman foto secara langsung dari misi-misi luar angkasa Amerika Serikat.
Pada tahun 1970an, dunia jurnalistik turut mempengaruhi kemunculan kamera digital. ketika itu, terdapat sebuah tuntutan untuk menghadirkan foto dari suatu peristiwa yang terjadi, secepat mungkin. Maka digunakanlah media pemindai foto (scanner). Sebuah foto dipindai menjadi data elektronik, kemudian dikirimkan melalui jalur telepon. Akan tetapi, cara ini juga masih dianggap merepotkan, karena terjadi penurunan kualitas gambar yang cukup signifikan dan proses pengiriman foto pun masih memerlukan waktu yang relatif lama.
Untuk menjawab dilema ini, dibutuhkan suatu kamera yang bisa secara langsung menciptakan foto yang berupa data elektronik. barulah pada bulan Desember tahun 1975, seorang teknisi dari perusahaan Kodak yang bernama Steven Sasson, menjadi orang pertama yang menemukan Kamera Digital.
Kamera yang dibuatnya, menggunakan sensor CCD sebagai media penerimaan gambar dan hanya mampu menghasilkan foto hitam putih dengan resolusi sebesar 0,01 megapixel (320 x 240 pixel). Media penyimpanannya merupakan sebuah kaset tape, Meski untuk mengamati hasil gambar, kamera ini seharusnya disambungkan terlebih dahulu dengan sebuah televisi. Kamera ini mempunyai bobot seberat 3,6 kg dan membutuhkan waktu tak kurang dari 23 detik untuk memproses satu buah foto.
Kamera digital model pertama
Kamera digital model pertama
Walaupun kamera digital model pertama ini masih belum praktis dan belum sepenuhnya menjawab dilema-dilema yang terjadi, tetapi alat ini telah menjadi awal mula dari kemudahan dan kepraktisan teknologi fotografi digital yang kita nikmati sekarang ini. Setelah penemuan dari kamera digital model pertama, kamera-kamera digital selanjutnya terus bermunculan dengan perbaikan-perbaikan dari model sebelumnya, dengan berjenis-jenis fitur serta kesanggupan yang baru.
Macam-macam Kamera Tempo Dulu Hingga Sekarang 
Kamera bermacam-macam. Dan wujud juga kecanggihan kamera semakin diperbaharui. Untuk lebih terang lagi, ini dia macam-macam kamera dari tempo dulu. Selamt membaca! 🙂

KAMERA FOTO
Kamera foto berarti suatu alat yang fungsinya tak hanya memproyeksikan citra saja, tetapi juga menggambarkan citra hal yang demikian ke atas sebuah media, secara permanen. Kamera foto merupakan hasil pengembangan dari fungsi yang sudah ada pada kamera obscura temuan Al-Hazen. Bila menelusuri sejarah penemuan kamera foto modern, maka kita akan bertemu dengan 4 orang tokoh dari abad ke-19 yang telah berjasa menunjukkan jalan menuju dunia fotografi modern.
Orang yang pertama merupakan seorang ilmuwan berkebangsaan Perancis, Joseph Nicéphore Niépce. Di tahun 1820an ia Melaksanakan eksperimen dengan kamera obscura. Niépce menyisipkan sebuah media ke dalam kamera obscura, agar citra yang terproyeksikan bisa terekam dalam media itu.
 View from the Window at Le Gras, foto yang paling pertama kali diwujudkan.
View from the Window at Le Gras, foto yang paling pertama kali diwujudkan.
Media yang digunakannya merupakan sebuah lempengan timah yang diolesi minyak khusus. Lempengan timah ini disimpan di dalam kamera obscura dan terpapar selama 8 jam oleh sinar matahari yang cerah. Citra yang terproyeksi dan terekam pada lempengan timah itulah, yang merupakan foto tercetak pertama yang berhasil diwujudkan dalam sejarah umat manusia. Foto itu diberi judul “View from the Window at Le Gras”, diwujudkan pada tahun 1826.
Tahun 1826, Joseph Nicéphore Niépce berkolaborasi dengan seorang seniman dan spesialis kimia Perancis bernama Louis JM Daguerre. Niépce meninggal dunia pada tahun 1833. tetapi setelah itu Daguerre terus menyempurnakan eksperimen Niépce. Ia menemukan cara agar gambar yang dihasilkan bisa terekam dengan lebih bagus.
Boulevard du Temple (1838/1839), foto pertama yang menampilkan citra manusia. diwujudkan oleh Louis JM Daguerre.
Boulevard du Temple (1838/1839), foto pertama yang menampilkan citra manusia. diwujudkan oleh Louis JM Daguerre.
Daguerre kemudian menggunakan media berupa lempengan berlapis perak. Sebelum lempengan itu dipapari cahaya, pertama-tama ia mengasapinya dengan uap dari zat yodium, agar lebih sensitif kepada paparan cahaya. Setelah dipapari cahaya selama 10 menit melalui kamera obscura, lempengan berlapis perak hal yang demikian diangkat dan diasapi lagi oleh uap dari zat merkuri serta dicelupkan dalam larutan garam. Akhirnya muncullah gambar yang kualitasnya lebih bagus daripada foto yang dihasilkan selama 8 jam melalui eksperimen Niépce. Gambar yang diambil Daguerre ini diwujudkan pada sekitar akhir tahun 1838 atau awal tahun 1839. Diberi judul“Boulevard du Temple” dan merupakan foto pertama yang menampilkan citra manusia di dalamnya.
Proses dan perangkat yang dipergunakan Louis JM Daguerre untuk membuat foto, kemudian dipatenkan dan diberi nama ‘Daguerreotype’. Daguerreotype menjadi populer dan sering dipergunakan untuk mengambil gambar dari tokoh-tokoh terkenal. Sehingga alat ini bisa disebut sebagai kamera foto pertama yang digunakan di masyarakat.
Percobaan berhasil yang dijalankan oleh Daguerre, sudah mulai memperkenalkan konsep film negatif yang bisa diubah menjadi positif dengan cara-cara tertentu. hakekatnya, pada jangka waktu yang sama, seorang ilmuwan berkebangsaan Inggris bernama William Henry Fox Talbotjuga telah Melaksanakan eksperimen yang mirip dengan eksperimen Daguerre. Barulah setelah Daguerre mematenkan proses temuannya, Talbot juga berusaha mempublikasikan hasil eksperimennya. Talbot lebih memfokuskan penelitiannya pada media penyerap cahaya atau kertas foto. Ia menciptakan media yang merupakan kertas yang telah dilapisi oleh bermacam-macam zat kimia. Kemudian ia memaparkan cahaya matahari ke atas kertas itu, dengan sebuah obyek di depannya. Jadilah citra obyek hal yang demikian tercetak pada kertas. Proses ini dinamainya‘Calotype’, yang berarti ‘penggambaran indah’, dalam bahasa Yunani.
Kodak No. 2 Brownie Box Camera (1910)
Perkembangan selanjutnya dari kamera foto terjadi bersamaan dengan ditemukannya teknologirollfilm. Tahun 1888, seorang berkebangsaan Amerika Serikat bernama George Eastman, memperkenalkan kamera yang dijual dengan harga terjangkau dan bernama “Kodak”. Kamera Kodak yang pertama ini sudah terisi dengan sebuah rollfilm hitam putih yang mampu untuk merekam 100 foto.
Perusahaan Kodak milik George Eastman ini mempunyai slogan “You press the button, we do the rest” (Anda yang menekan tombolnya, kami yang mengurus selanjutnya), karena untuk memproses dan mencetak hasil fotonya, konsumen perlu mengembalikan kamera mereka ke pabrik.
Jadi itulah sejarah awal dari kamera foto. Dimulai dengan eksperimen Joseph Nicéphore Niépce yang mengembangkan kamera obscura agar bisa merekam gambar, dilanjutkan oleh Louis JM Daguerre dengan daguerreotypenya yang menyempurnakan hasil eksperimen Niépce, kemudian William Henry Fox Talbot yang mempunyai konsep serupa dengan Daguerre, dan terakhir George Eastman, yang memproduksi kamera ‘Kodak’nya yang murah serta mudah digunakan, dan akhirnya membuat fotografi menjadi semakin memasyarakat.
FOTOGRAFI DIGITAL
Fotografi digital merupakan salah satu inovasi terbaik dalam dunia fotografi. Kehadirannya telah mengubah paradigma masyarakat yang menganggap bahwa fotografi merupakan suatu bidang yang mahal dan sulit untuk dikuasai. Fotografi digital benar-benar bisa memberikan kepraktisan dan kemudahan bagi tiap-tiap orang untuk membuat sebuah foto yang bagus. Dengan perkembangan teknologi yang pesat, dan beragam fitur untuk membuat foto yang bagus, timbul sebuah ungkapan bahwa “tiap-tiap orang bisa menjadi fotografer profesional”.
Bila ditelusuri dari sejarahnya, maka kita akan kembali ke tahun 1960an. Di mana dunia sedang mengalami revolusi besar-besaran di bidang teknologi. Eugene F. Lally, seorang teknisi dari Jet Propulsion Laboratory merupakan orang pertama yang mencetuskan ide untuk mendigitalisasi sebuah foto. ketika itu tujuannya merupakan untuk mempermudah pengiriman foto secara langsung dari misi-misi luar angkasa Amerika Serikat.
Pada tahun 1970an, dunia jurnalistik turut mempengaruhi kemunculan kamera digital. ketika itu, terdapat sebuah tuntutan untuk menghadirkan foto dari suatu peristiwa yang terjadi, secepat mungkin. Maka digunakanlah media pemindai foto (scanner). Sebuah foto dipindai menjadi data elektronik, kemudian dikirimkan melalui jalur telepon. Akan tetapi, cara ini juga masih dianggap merepotkan, karena terjadi penurunan kualitas gambar yang cukup signifikan dan proses pengiriman foto pun masih memerlukan waktu yang relatif lama.
Untuk menjawab dilema ini, dibutuhkan suatu kamera yang bisa secara langsung menciptakan foto yang berupa data elektronik. barulah pada bulan Desember tahun 1975, seorang teknisi dari perusahaan Kodak yang bernama Steven Sasson, menjadi orang pertama yang menemukan Kamera Digital.
Kamera yang dibuatnya, menggunakan sensor CCDsebagai media penerimaan gambar dan hanya mampu menghasilkan foto hitam putih dengan resolusi sebesar 0,01 megapixel (320 x 240 pixel). Media penyimpanannya merupakan sebuah kaset tape, Meski untuk mengamati hasil gambar, kamera ini seharusnya disambungkan terlebih dahulu dengan sebuah televisi. Kamera ini mempunyai bobot seberat 3,6 kg dan membutuhkan waktu tak kurang dari 23 detik untuk memproses satu buah foto.
Walaupun kamera digital model pertama ini masih belum praktis dan belum sepenuhnya menjawab dilema-dilema yang terjadi, tetapi alat ini telah menjadi awal mula dari kemudahan dan kepraktisan teknologi fotografi digital yang kita nikmati sekarang ini. Setelah penemuan dari kamera digital model pertama, kamera-kamera digital selanjutnya terus bermunculan dengan perbaikan-perbaikan dari model sebelumnya, dengan berjenis-jenis fitur serta kesanggupan yang baru.
KAMERA OBSCURA
KAMERA OBSCURA
KAMERA OBSCURA Delapan Jam Untuk Satu Foto!

Kamera kini ada di mana-mana dan semakin mudah dipakai. Bagaimana sejarah lahirnya kamera?

Liburan memang menyenangkan. ketika-ketika seperti itu seharusnya diabadikan supaya bisa dikenang terus. Caranya bisa dengan merekam via video atau kamera. Kini siapa saja bisa mengabadikan ketika-ketika mengasyikkan. Soalnya hampir tiap-tiap handphone kini ada kameranya. Berbicara tentang kamera, bagaimana, ya, sejarahnya?

Kamera Portable Obscura
Pada tahun 1960-an, seorang peneliti Inggris, Robert Boyle dan pembantunya Robert Hooke, menemukan kamera portable (bisa dipindah-pindah) obscura. Penemuan mereka ini disempurnakan lagi oleh Johann Zahn tahun 1685. Kamera ini sering kita lihat di film-film bertema jaman dahulu. Kamera ini memakai lampu kliat yang meledak dan mengeluarkan asap.
KAMERA DAGUERREOTYPE
KAMERA DAGUERREOTYPE

Pada tahun 1829, Niepce bermitra dengan Louis Daguerre. Dan ketikaNiepce meninggal dunia pada tahun 1833, Daguerre lah yang melanjutkan segala penelitian yang telah ia dan Niepce mulai. Melalui upaya yang terus-menerus, Daguerre berhasil mengurangi waktu bukaan walau hanya setengah jam sekalipun. Daguerre juga menemukan sebuah theory bahwa merendam gambar dalam larutan garam akan membuat gambar menjadi permanen. Dan pada akhirnya Daguerre membuat nama baru untuk penemuan kamera obscura sebagai Daguerreotype dan menjual hak patennya kepada pemerintah Perancis pada tahun 1839.

“Daguerreomania” meledak di Eropa dan Amerika Serikat, di mana gambar permanen pada kaca dan logam menjadi populer ketika itu, walaupun model baru ini hanya bisa membuat satu gambar dan tak bisa diwujudkan salinan/copy nya.

Sejak Daguerreotypes diciptakan, maka sejarah kamera pun terus berlanjut dengan diciptakannya kertas negatif pertama oleh William Henry Fox Talbot dari Inggris pada tahun 1835. Dan sembilan tahun kemudian yaitu pada tahun 1844, ciptaan Talbot hal yang demikian dipatenkan dengan sebutan Calotype.
Walaupun Daguerreotype bisa menghasilkan kualitas gambar yang lebih bagus daripada calotype, namun penemuan Talbot bisa menghasilkan beberapa salinan/copy dari sebuah negatif. Pada tahun 1844 Talbot dicatat sebagai penerbit koleksi photo pertama dalam sejarah photography. Ia menerbitkan sebuah koleksi photo yang ia beri judul The Pencil of Nature.

KAMERA CALOTYPE
Mengingat waktu bukaan yang dibutuhkan untuk model Daguerreotype dan model Calotype benar-benar panjang, maka permasalahan waktu bukaan lebih cepat merupakan langkah selanjutnya dalam sejarah kamera. Hal hal yang demikian akhirnya bisa dipecahkan dan menjadi kenyataan dengan foto Collodion Frederick Scott Archer pada tahun 1851. Proses Collodion bisa membuat waktu bukaan menjadi hanya tiga detik saja. Untuk mempercepat waktu bukaan, gambar Collodion diolah pada ketika Platephotography masih basah yang mengakibatkan sejumlah besar peralatan pengembangan seharusnya senantiasa tersedia di lokasi. Sementara pengolahan dengan Dry Plate tak tersedia hingga tahun 1871.
KAMERA POLAROID

Polaroid film merupakan film yang ditemukan oleh Edwin Land. Menghasilkan foto dalam waktu singkat (dalam beberapa menit saja), tetapi tak mempunyai negatif. Jepretan pertama dengan menggunakan kamera polaroid dijalankan oleh Heriyanto, Farouk dan Gusti pada tahun 1944, Meski jepretan pertama di muka bumi ini (dengan kamera yang ada pada ketika itu) dijalankan oleh Niceephore Niepce yang memotret gudang di halaman belakang rumahnya di Prancis pada tahun 1826.
Kamera Polaroid atau lebih diketahui dengan kamera langsung jadi merupakan model kamera yang bisa memproses foto sendiri di dalam badan kamera setelah dijalankan pemotretan. Kamera polaroid ini menggunakan film khusus yang dinamakan film polaroid. Film polaroid yang bisa menghasilkan gambar berwarna dinamakan film polacolor. berdasarkan sejarahnya, kamera polaroid atau kamera gambar seketika jadi ini dirancang untuk pertama kalinya oleh Edwin Land, dari perusahaan Polaroid dan dipasarkan sejak tahun 1947. Nama Polaroid itu sebetulnya merupakan merek dagang, seperti orang menyebut segala pasta gigi dengan nama Pepsodent, atau orang menyebut sepeda motor dengan nama Honda.

KAMERA MIRRORLESS
Kamera mirrorless
Kamera mirrorless 

Kamera mirrorless alias Mirrorless Interchangeable-Lens Camera (MILC) atau Kamera Tanpa Cermin Dengan Lensa Yang Bisa Diganti-ganti (apa tuh singkatannya dalam Bahasa Indonesia?) alias Compact Camera System alias Electronics Viewfinder with Interchangeable Lens (EVIL) -duh banyak banget istilahnya – merupakan salah satu kelas sistem kamera digital yang mulai menanjak popularitasnya sejak pertama kali dimunculkan di sekitar 2008. Jawaban singkat dari pertanyaan “Apa sih Kamera Mirrorless?” merupakan kamera yang mirip DSLR namun tak memakai cermin. Nah untuk jawaban panjang, silahkan baca lebih lanjut.

KAMERA SLT
Single-Lens Translucent (SLT) is a Sony proprietary designation for Sony Alpha cameras which employ apellicle mirror, electronic viewfinder, and phase-detection autofocus system. They employ the same Minolta A-mount as Sony Alpha DSLR cameras.

KAMERA SLT
KAMERA SLT
Sony SLT cameras have a semi-transparent fixed mirror which diverts a portion of incoming light to an phase-detection autofocus sensor, while the remaining light strikes a digital image sensor. The image sensor feeds the electronic viewfinder, and also records still images and video on command. The utility of the SLT design is to allow full-time phase-detection autofocus during electronic viewfinder and video recording operation. With the advent of digital image sensors with integrated phase-detection, the SLT design is no longer required to accomplish this goal, as evidenced by cameras such as the Sony NEX-5R, Fujifilm X-E1, and Nikon.
The term “translucent” is a misnomer for the actual SLT design, which employs a pellicle mirror that is not translucent. Pellicle mirrors have been used in single-lens reflex cameras from at least the 1960s (see Canon Pellix).
KAMERA POCKET
KAMERA POCKET

Kamera saku digital (bahasa Inggris: digital pocket camera) merupakan kamera otomatis yang menggunakan format pengambilan gambar dan penyimpanan digital dengan ukuran kecil dan ringan sehingga mudah dibawa-bawa.
Kamera saku digital pada umumnya mempunyai karakter yang sama seperti kamera saku manual (yang menggunakan media film). Sebagai kamera saku, kamera ini telah dilengkapi dengan berjenis-jenis fasilitas seperti kesanggupan untuk menangani pencahayaan yang lemah dan fokus atas (Close up).
Kekurangan kamera ini :

  • Lamanya waktu tunda (delay) untuk merekam suatu gambar
  • Keterbatasan penggunaan untuk mengelola obyek secara profesiona dan perlakuan artistik tertentu.
  • Keterbatasan asesoris pendukung seperti ketiadaan tukar pasang lensa, fiter.
  • Fungsi yang terlalu sederhana dan monoton, walaupun untuk Macam kamera saku kompak terbaru juga sudah mempunyai fasilitas dan fungsi yang hampir sama dengan Macam kamera SLR Digital.
KAMERA SLR
KAMERA SLR
KAMERA SLR

Kamera refleks lensa tunggal‎ (bahasa Inggris: Single-lens reflex (SLR) camera) merupakan kamera yang menggunakan sistem jajaran lensa jalur tunggal untuk melewatkan berkas cahaya menuju ke dua tempat, yaitu Focal Plane dan Viewfinder, sehingga memungkinkan fotografer untuk bisa mengamati objek melalui kamera yang sama persis seperti hasil fotonya. Hal ini berbeda dengan kamera non-SLR, dimana pandangan yang terlihat di viewfinder bisa jadi berbeda dengan apa yang ditangkap di film, karena kamera Macam ini menggunakan jajaran lensa ganda, 1 untuk melewatkan berkas cahaya ke Viewfinder, dan jajaran lensa yang lain untuk melewatkan berkas cahaya ke Focal Plane.

Kamera SLR menggunakan pentaprisma yang ditempatkan di atas jalur optikal melalui lensa ke lempengan film. Cahaya yang masuk kemudian dipantulkan ke atas oleh kaca cermin pantul dan mengenai pentaprisma. Pentaprisma kemudian memantulkan cahaya beberapa kali hingga mengenai jendela bidik. ketika tombol dilepaskan, kaca membuka jalan bagi cahaya sehingga cahaya bisa langsung mengenai film.

EAZZY MINI USB DIGITAL CAMERA
EAZZY MINI USB DIGITAL CAMERA

Eazzy mini USB Digital camera merupakan kamera mini yang super praktis karena kamu bisa langsung memindahkan foto yang kamu miliki dengan cara mencolokan Eazzy mini ke port USB PC / Laptop kamu. Kamera ini didukung dengan resolusi 2MP dan bisa merekam video dengan kapasitas 30fps sehingga mampu menghasilkan gambar yang bagus.

Kesimpulan

Sejarah Kamera
Kamera berawal dari sebuah alat serupa yang diketahui dengan Kamera Obscura yang merupakan kotak kamera yang belum dilengkapi dengan film untuk menangkap gambar atau bayangan. Pada abad ke 16 Girolamo Cardano melengkapi kamera obscura dengan lensa pada bagian depan kamera obscura hal yang demikian. Meski demikian, bayangan yang dihasilkan ternyata tak tahan lama, sehingga penemuan Girolamo belum dianggap sebagai dunia fotografi. Pada tahun 1727 Johann Scultze dalam penelitiannya menemukan bahwa garam perak benar-benar peka terhada cahaya namun beliau belum menemukan konsep bagaimana langkah untuk meneruskan gagasannya.
Pada tahun 1826, Joseph Nicepore Niepce mempublikasikan gambar dari bayangan yang dihasilkan kameranya, yang berupa gambaran kabur atap-atap rumah pada sebuah lempengan campuran timah yang dipekakan yang kemudian diketahui sebagai foto pertama. Kemudian, pada tahun 1839, Louis Daguerre mempublikasikan temuannya berupa gambar yang dihasilkan dari bayangan sebuah jalan di Paris pada sebuah pelat tembaga berlapis perak. Daguerre yang mengadakan kongsi pada tahun 1829 dengan Niepce meneruskan program pengembangan kamera, meski Niepce meninggal dunia pada 1833, mengembangkan kamera yang diketahui sebagai kamera daguerreotype yang dianggap praktis dalam dunia fotografi, dimana sebagai imbalan atas temuannya, Pemerintah Perancis memberikan hadiah uang pensiun seumur hidup kepada Daguerre dan keluarga Niepce. Kamera daguerreotype kemudian berkembang menjadi kamera yang dioptimalkan sekarang.
bagian kamera
Sebuah kamera minimal terdiri atas: 
Kotak yang kedap cahaya (badan kamera) 
Sistem lensa 
Pemantik potret (shutter) 
Pemutar film 
Sistem lensa
Sistem lensa dipasang pada lubang depan kotak, berupa sebuah lensa tunggal yang terbuat dari plastik atau kaca, atau sejumlah lensa yang tertata dalam suatu silinder logam. Tingkat penghalangan cahaya dinyatakan dengan angka f, atau bukaan relatifnya. Makin rendah angka f ini, makin besar bukaannya atau makin kecil tingkat penghalangannya. Bukaan ini diatur oleh jendela diafragma. Bukaan relatif diatur oleh suatu diafragma. Untuk kamera SLR, lensa dilengkapi dengan pengatur bukaan diafragma yang mengatur banyaknya cahaya yang masuk cocok keinginan fotografer. Macam lensa cepat ataupun lensa lambat ditentukan oleh rentang nilai F yang bisa digunakan. Disamping lensa biasa, diketahui juga lensa sudut lebar (wide lens), lensa sudut kecil (tele lens), dan lensa variabel (variable lens, atau oleh kalangan awam disebut dengan istilah lensa zoom. Lensa sudut lebar mempunyai jarak fokus yang lebih kecil daripada lensa biasa. Namun sebutan itu bergantung pada lebarnya film yang digunakan. Untuk film 35 milimeter, lensa 35 milimeter akan disebut lensa sudut lebar, Meski lensa 135 milimeter akan disebut lensa telefoto. Lensa variabel bisa diubah-ubah jarak fokusnya, dengan mengubah kedudukan relatif unsur-unsur lensa hal yang demikian. Lensa akan memfokuskan cahaya sehingga dihasilkan bayangan cocok ukuran film. Lensa dikelompokkan cocok panjang focal length (jarak antara kedua lensa). Focal lenght memengaruhi besar komposisi gambar yang mampu dihasilkan. Dalam masyarakat biasa, lebih diketahui dengan istilah zoom.
Pemantik Potret
Tombol pemantik potret atau shutter dipasang di belakang lensa atau di antara lensa. Kebanyakan kamera SLR mempunyai mekanisme pengatur waktu untuk memungkinkan mengubah-ubah lama bukaan shutter. Waktu ini ialah singkatnya pemetik potret itu membuka, sehingga memungkinkan berkas cahaya mengenai film.
Beberapa masyarakat awam menganggap kesanggupan kamera sebanding dengan besarnya nilai maksimum shutter speed yang bisa digunakan.
Bagian lain
Bagian lain sebuah kamera, antara lain: 
Mekanisme memutar film gulungan agar bagian-bagian film itu bergantian bisa disingkapkan pada objek 
Mekanisme fokus yang bisa mengubah-ubah jarak antara lensa dan film, 
Pemindai komposisi pemotretan (range finder) yang menunjukkan apa saja yang akan terpotret serta apakah objek utama akan terfokuskan 
lightmeter untuk membantu menetapkan kecepatan pemetik potret dan atau besarnya bukaan, agar banyaknya cahaya yang mengenai film cukup tepat sehingga diperoleh bayangan atau gambar yang memuaskan. 
Beberapa kamera, terpenting Macam kamera poket biasanya tak mempunyai salah satu dari bagian-bagian hal yang demikian.
Macam kamera berdasarkan media penangkap cahaya
Kamera film menggunakan pita seluloid (atau sejenisnya, cocok perkembangan teknologi). Butiran silver halida yang melekat pada pita ini benar-benar sensitif kepada cahaya. ketika proses cuci film, silver halida yang telah terekspos cahaya dengan ukuran yang tepat akan menghitam, Meski yang kurang atau sama sekali tak terekspos akan tanggal dan larut bersama cairan pengembang (developer).
Kamera film
Macam kamera film yang digunakan merupakan dari Macam 35 milimeter, yang menjadi populer karena keserbagunaan dan kecepatannya ketika memotret, karena kamera ini berukuran kecil, kompak dan tak mencolok. Lensa kadang bisa dipertukarkan, dan kamera itu bisa memuat gulungan film untuk 36 singkapan, bahkan kadang lebih.
Macam film
Pembagian film berdasarkan ukuran: 
Small format (35mm) 
Medium format (100-120mm) 
Large format 
Angka di atas berarti ukuran diagonal film yang digunakan. tiap-tiap Macam ukuran film seharusnya menggunakan kamera yang berbeda pula.
Pembagian film berdasarkan Macam bahan dan kesensitifannya: 
Film hitam putih 
Film warna 
Film positif 
Film negatif 
Film daylight 
Film tungsten 
Film infra merah (sensitif kepada panas yang dipantulkan permukaan objek) 
Kamera polaroid
Kamera Macam ini memakai lembaran polaroid yang langsung memberikan gambar positif sehingga pemotret tak perlu Melaksanakan proses cuci cetak film.
Kamera digital
Kamera Macam ini merupakan kamera yang bisa bekerja tanpa menggunakan film. Si pemotret bisa dengan mudah menangkap suatu objek tanpa seharusnya susah-susah membidiknya melalui jendela pandang karena kamera digital beberapa besar memang tak memilikinya. Sebagai gantinya, kamera digital menggunakan sebuah layar LCD yang terpasang di belakang kamera. Lebar layar LCD pada tiap-tiap kamera digital berbeda-beda. Sebagai media penyimpanan, kamera digital menggunakan internal memory ataupun external memory yang menggunakan memory card.
Macam kamera berdasarkan mekanisme kerja
Kamera single lens reflex
Kamera ini mempunyai cermin datar dengan singkap 45 derajat di belakang lensa, sehingga apa yang terlihat oleh pemotret dalam jendela pandang merupakan juga apa yang akan di tangkap pada film. Umumnya kamera ini digunakan setinggi pinggang ketika dipotretkan.
Kamera instan
Istilah instan merupakan dimilikinya mekanisme automatik pada kamera, sehingga berdasar pengukur cahaya (lightmeter atau fotometer), lebar diafragma dan kecepatan pemetik potret secara otomatis telah diatur.
Pembagian kamera berdasarkan teknologi viewfinder
Viewfinder memainkan peranan penting dalam penyusunan komposisi fotografi. Fotografer spesialis biasanya akan lebih memilih viewfinder dengan kualitas bagus dan mampu memberikan gambaran tepat seperti apa yang akan tercetak.
Kamera saku
Macam yang paling populer digunakan masyarakat biasa. Lensa utama tak bisa diganti,umumnya otomatis atau memerlukan sedikit penyetelan. Cahaya yang melewati lensa langsung membakar medium. Kelemahan film ini merupakan gambar yang ditangkap oleh mata akan berbeda dengan yang akan dihasilkan film, karena ada perbedaan sudut pandang jendela bidik (viewfinder) dengan lensa.
Kamera TLR
Kelemahan kamera poket diperbaiki oleh kamera TLR. Jendela bidik diberikan lensa yang identik dengan lensa di bawahnya. Namun tetap ada kekeliruan paralaks yang ditimbulkan karena sudut dan posisi kedua lensa tak sama.
Referensi 
Ensiklopedia Nasional Indonesia. 
Lihat pula 
Kamera Digital 
Fotografi 
Bibliografi