Sejarah Pergerakan Wanita Indonesia

Sejarah Pergerakan Wanita Indonesia – Pada masa perjuangan perempuan sudah tak asing lagi ditelingan kita nama-nama pejuang-pejuang perempuan seperti Raden Ayu Ageng Serang, Cut Nyak Dien, Cut Meutia, dan yang kita juga amat mengenalnya dengan memperjuangkan emansipasi dalam arti pembebasan diri melawan adat, kekolotan dan keterbelakangan, beliau ialah Raden Ajeng Kartini.
Sejarah Pergerakan Wanita Indonesia
Sejarah Kartini

RA. Kartini yaitu Pelopor Pergerakan kaum wanita. R.A. Kartini telah menjadi sejarah dalam keikutsertaan kaum hawa diberbagai bidang kehidupan,bagus non pemerintahan dan pemerintahan, R.A. Kartini amat diharumkan namanya terlihat dari tanggal lahirnya yang senantiasa diperangati oleh bermacam kalangan bukan hanya kaum hawa tetapi kaum adam pun ikut serta dalam memperingati hari pergerakan kaum wanita atau hari R.A.Karitini atau Hari ibu, R.A. Kartini merupakan beberapa kaum atau salah satu kaum hawa yang amat memperjuangkan hak-hak perempuan atau kaum hawa untuk ikut serta dalam bermacam bidang kehidupan dan karna R.A.Kartini bermacam kaum hawa bisa kerja diberbagai bidang kehidupan, dan tiap 21 April diperangati Hari ibu untuk mengenang dan memperingati Pergerakan Kaum Wanita dan Perjuangan R.A. Karitini sebagai pelopor Para Pergerakan kaum wanita.

·         Ke dalam : berusaha meningkat/sempurnakan kesanggupan dan kecerdasan kaum wanita sendiri sebagal ibu dan pemeg ang kendali rumah-tangga.

 

<![endif]-->Rounded Rectangle: Pergerakan kaum wanita pada umumnya bersifat sosial, dengan tujuan:  • Keluar: berusaha memperoleh persamaan hak setaraf dengan kaum pria, agar supaya tak diperlakukan sewenang-wenang. • Ke dalam : berusaha meningkat/sempurnakan kesanggupan dan kecerdasan kaum wanita sendiri sebagal ibu dan pemeg ang kendali rumah-tangga.   

            Selain Kartini, Dewi Sartika juga menjadi pelopor gerakan wanita di Jawa Barat. Ia mendirikan sekolah Keutamaan Isteri untuk kaum wanita di Jawa Barat. Pelopor gerakan wanita dari Minahasa yaitu Maria Walanda Maramis yang belajar bahasa Belanda dari suaminya, Yosef Walanda. Berkat pengetahuannya, ia sadar akan nasib kaum wanita Minahasa yang jauh tertinggal. Maka pada tahun 1927, ia berjuang dan berhasil mendirikan organisasi PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya).
Pada masa-masa selanjutnya, kesadaran wanita Indonesia untuk hidup lebih bagus makin terbuka lebar. Hal ini ditandai dengan keberadaan organisasi-organisasi wanita yang semakin banyak berdiri. Organisasi wanita yang timbul misalnya:
1.    Perkumpulan Kartinifonds di Semarang,
2.    Putri Merdika di Jakarta,
3.    Wanita Rukun Santoso di Malang,
4.    Maju Kemuliaan di Bandung,
5.    Budi Wanito di Solo,
6.    Kerajinan Amai Setia di Kota Gadang, Sumatera Barat,
7.    Serikat Kaum Ibu Sumatera di Bukit Tinggi,
8.    Gorontalosche Mohammedaansche Vrouwenvereniging di Sulawesia Utara,
9.    Ina Tuni di Ambon, dan lain-lain.
Selain itu, terdapat juga organisasi wanita yang merupakan bagian dari induk organisasi yang lebih besar. Organisasi wanita hal yang demikian antara lain:
1.    Aisiyah (Wanita Muhammadiyah),
2.    Puteri Indonesia (Wanita dari Pemuda Indonesia),
3.    Wanita Taman Siswa.
Organisasi wanita yang bergerak di bidang politik antara lain Isteri Sedar yang didirikan di Bandung oleh Suwarni Jayaseputra. Organisasi ini bertujuan untuk mencapai Indonesia merdeka. Padahal organisasi Isteri Indonesia pimpinan Maria Ulfah dan Ibu Sunaryo Mangunpuspito bertujuan untuk mencapai Indonesia Raya.
Organisasi-organisasi hal yang demikian mengadakan Kongres Persatuan Wanita Indonesia di Yogyakarta pada tanggal 22 hingga 25 Desember 1928. Hari pembukaan kongres tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu. Dalam kongres hal yang demikian disusun juga PPII (Perserikatan Perhimpunan Isteri Indonesia) sebagai kumpulan organisasi wanita. Itulah sejarah perkembangan organisasi wanita di Indonesia sehingga turut membantu tercapainya Indonesia merdeka seperti sekarang ini.
Perempuan Dan Kepemimpinan
Kepemimpinan yaitu suatu sikap mempengaruhi orang lain untuk mencapai suatu tujuan dengan visi dan misi yang kuat. bila berbicara tentang kepemimpinan pasti dipikiran masyarakat umumnya identik dengan kaum adam atau pria padahal bila kita menelaah perempuan juga mempunyai jiwa kepemimpinan, yang tak jauh berbeda keahliannya dalam memberi arahan, dalam berorasi ataupun beretorika atau bahkan memberi gagasan.
berdasarkan J.I. Brown dalam “Psychology and the Social Order”, disebutkan bahwa pemimpin tak bisa dipisahkan dengan kelompok, tetapi bisa dipandang sebagai suatu posisi yang mempunyai potensi yang tinggi di bidangnya. Karakter seorang pemimpin mampu mengubah, mempengaruhi dan mengarahkan orang lain dalam mencapai satu tujuan yang mempunyai visi dan misi yang kuat.
Ungkapan hal yang demikian tentu saja bisa diartikan bahwa peranan wanita dalam kepemimpinan hakekatnya bukanlah suatu hal yang aneh. Dalam hal kesetaraan gender bisa diartikan bahwa, dengan adanya kesamaan ditelaah bagi laki-laki ataupun perempuan dalam memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan pertahanan dan keamanan nasional (hankamnas) serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan.
Pada dasarnya seluruh orang bisa menjadi pemimpin(leadership), Wanita tak semuanya lemah ia ibarat sebuah banguan yang kokoh dan merupakan fondasi yang berstruktur kuat. Hal ini bisa dilihat dari perannya pada kehidupan bermasyarakat, dalam konsumen pembangunan bukan hanya sebagai proses pembangunannya saja, sungguh menyedihkan apabila kita memperhatikan dari sudut pandang yang berlainan bahkan sudah banyak kenyataannya peran seorang perempuan tradisional dianggap sebagai “cadangan” contohnya umur belia sudah diharuskan menikah tanpa mengenyam pendidikan wajib,umumnya masyarakat yang masih paguyuban(pedesaan).
Namun semakin berkembangnya zaman yang dimulai dengan sosok seorang perempuan yang berjuang khususnya dalam peregerakan emansipasi wanita yaitu R.A Kartini dampaknya sekarang telah banyak dirasakan. Keberadaan wanita kini mulai dihargai dan disetarakan walaupun masih banyak pro dan kontranya.
Teladan wanita yang berhasil membuktikan perempuan bisa menjadi salah satu pemimpin dalam sejarah Indonesia yaitu Megawati Soekarno Putri, ini merupakan bukti nyata wanita bisa menjadi seorang pemimpin yaitu sebagai Kepala Negara. .
Dengan terciptanya peran wanita dalam berkesempatan memegang peranan sebagai kepemimpinan bisa membawa imbas yang positif yaitu permasalahan kesetaraan gender ditandai dengan tak adanya perbedaan (diskriminasi) antara perempuan dan laki-laki. Dengan demikian peempuan dan laki-laki mempunyai peluang atau akses yang sama dalam kepemimpinan. Hal itu ditandai dengan perempuan yang mampu memberikan suara, berpatisipasi dalam pembangunan negara yang lebih bagus. Tentu hal ini merupakan kebijakan tersendiri yang mempunyai manfaat persamaan serta adil dari pembangunan. Hal ini seharusnya senantiasa dibuktikan bahwa wanita bisa semakin maju dalam kemimpinan.
Lima Rahasia Pemimpin Wanita
Sharon Hadary dan Laura Henderson, penulis buku How Women Lead : The Essential Strategis Successful Women Know, mengatakan kepemimpinan seorang wanita cenderung memberikan hasil layak harapan. Hasil itu termasuk peluang yang lebih bagus pada profitabilitas usaha dan penciptaan banyak bisnis yang berbasis kreatif dan inovatif.

Dalam bukunya hal yang demikian, keduanya menyampaikan hasil penelitian mereka selama dua dekade bahwa pemimpin wanita dalam bisnis jutaan dolar mampu mengkombinasikan kepemimpinan feminim yang unik dengan ketajaman berbisnis demi mencapaian tertinggi. Hadary dan Henderson juga memberikan rahasia bagaimana para pemimpin wanita bisa memaksimalkan kekuatan. Rahasianya yaitu sebagai berikut:

1. Raih dan miliki takdir Anda.

Penelitian terbaru yang dikerjakan Hadary dan Henderson mengungkap satu fakta baru, di mana wanita yang meraih kesuksesan yaitu mereka yang telah mendefinisikan kesuksesan dengan cara mereka sendiri. Mereka mengintegrasikan pencapaian yang diraih dengan menciptakan bisnis yang mencerminkan gairah mereka. Bisnis yang mereka jalankan menyediakan produk dan jasa yang bertanggung jawab secara sosial, menawarkan kesempatan bagi karyawannya untuk berkembang, membawa aura positif bagi lingkungan dan sekaligus menghasilkan banyak profit. Pengusaha sukses menetapkan tujuan yang tinggi. Dan ketika mencapai, mereka langsung menetapkan tujuan dengan tingkat yang lebih tinggi lagi. “Perempuan seharusnya memikirkan bisnis mereka sebagai bisnis satu juta dolar dari hari pertama,”ujar Henderson. “Hal ini mendorong bagaimana mereka menyusun struktur bisnis, keputusan yang akan dijadikan serta cara menampilkan diri sendiri dan bisnisnya.”

2. Memimpin layaknya seperti seorang wanita.

Wanita yang amat sukses, membangun kekuatan kepemimpinannya dari kolaborasi, inklusi dan konsultasi. Mampu menciptakan perusahaan di mana seluruh ide dan wawasan tiap orang didengar dan dipertimbangkan dalam membuat keputusan. Selain itu seluruh orang didalamnya merasa dihargai dan bersama berkomitmen mencapai tujuan. Kepemimpinan wanita mempunyai gaya khusus yang mungkin tak dijumpai pada kaum Adam. Wanita berpikir lebih holistik. Itu berarti, ketika wanita memperhatikan situasi, mereka mempunyai kecenderungan melampaui fakta-fakta yang spesifik berikut data dan pertimbangan organisasi. Sebagai hasilnya, mereka mengidentifikasikan peluang, resiko, kesenjangan yang kerap terlupa dan memperkuat daya saing.
3. Disiplin menyusun strategi dan keputusan.
Banyak pemimpin wanita yang kemudian rusak kredibilitasnya sebagai pengusaha dengan membuka diskusi dan pernyataan tentang kurangnya ketajaman bisnis. Hadary dan Henderson mengatakan para pengusaha dan pemimpin wanita yang sukses senantiasa mendapat laporan keuangan secara berkala dan mengindetifikasi kunci metriknya yaitu memberikan wawasan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk menyusun strategi dan pengambilan keputusan

4. Perlunya membentuk dan membangun tim yang solid.
Dengan memperkerjakan yang terbaik sejak awal, para wanita hebat ini merupakan seorang yang mampu bekerja secara efektif dalam situasi bergerak cepat. Mereka umumnya mempunyai berkomitmen yang tinggi, rasa ingin tahu, berpikir kritis, berani mengambil resiko, rasa hormat dan toleransi. Para wanita inipun memerlukan dan membentuk tim dengan memperkerjakan anggota yang mempunyai kategori atau setidaknya sama dengannya untuk menghasilkan sebuat tim yang bisa mengidentifikasi dan menghasilkan solusi disetiap masalah. Dengan membentuk dan membangun tim yang solid ini akan mampu menghadapi tantangan yang senantiasa berkembang. 

5.Merayakan Keberhasilan.

Wanita yang mempunyai sifat khas untuk senantiasa bersyukur dan merayakan keberhasilan. Karena itu tak ada yang salah untuk merayakan apa yang telah diraih. Misalnya dengan me time menikmati liburan yang ketika menempuh perjalanan ini akan mendapat ide-ide  

Secara mendasar, gender berbeda dari Tipe kelamin biologis. Gender yaitu  perbedaan konsep tentang kepatutan bagi perempuan dan laki-laki dalam segala hal yang lebih banyak diberi pengaruh adat, kebiasaan, dan lingkungan tempat tinggal.

Gender berupa seperangkat peran yang seperti halnya kostum dan topeng di teater, menyampaikan kepada orang lain bahwa kita yaitu feminim atau maskulin. Perangkat perilaku khusus ini mencakup penampilan, pakaian, sikap, kepribadian, bekerja di dalam dan di luar rumah tangga, seksualitas, tanggung jawab keluarga dan sebagainya secara bersama-sama memoles peran gernder kita, (Julia Cleves Mosse,(1996:3).

Konten gender juga bisa dipelajari pada tahap produksi karena beberapa besar pilihan dan produksi media dikerjakan pria. Dalam hal ini, perhatian juga seharusnya diberikan kepada ‘berita’ yang sejak lama melanggengkan peranan pria, dan wujud konten dominan (politik, ekonomi, olahraga) berorientasi pada khalayak pria. 

Feminisme seperti yang telah disepakati yaitu tindakan atau ideologi yang membela kesetaraan laki-laki dan perempuan. Feminisme sebagai sebuah kegiatan intelektual ataupun sebuah strategi politik mempunyai riwayat yang panjang (Spender:1983 ). 

Kaum perempuan telah lama memperjuangakan untuk membebaskan diri dari ketidakadilan. Feminisme merupakan fokus pada sosial wanita dan keinginan untuk menghentikan tindakan/tekanan berdasarkan gender. 

Gerakan Feminisme
Sejarah feminisme
Lahirnya gerakan Feminisme yang dipelopori oleh kaum perempuan terbagi menjadi dua gelombang dan pada masing-masing gelombang mempunyai perkembangan yang amat pesat. dimulai dengan kelahiran era pencerahan yang terjadi di Eropa dimana Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condoracet sebagai pelopornya. Menjelang abad 19 gerakan feminisme ini lahir di Negara-negara penjajahan Eropa dan memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai universal sisterhood
ALIRAN
a.    Feminisme liberal
Apa yang disebut sebagai Feminisme Liberal ialah pandangan untuk menempatkan perempuan yang mempunyai kebebasan secara penuh dan individual. Aliran ini menyatakan bahwa kebebasan dan kesamaan berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia privat dan publik. tiap manusia -demikian berdasarkan mereka- punya kapasitas untuk berpikir dan bertingkah secara rasional, begitu pula pada perempuan. Akar ketertindasan dan keterbelakngan pada perempuan ialah karena disebabkan oleh kekeliruan perempuan itu sendiri. Perempuan seharusnya mempersiapkan diri agar mereka bisa bersaing di dunia dalam kerangka “persaingan bebas” dan punya kedudukan setara dengan lelaki.
b.    Feminisme radikal
Pada sejarahnya, aliran ini timbul sebagai reaksi atas kultur seksisme atau dominasi sosial berdasar Tipe kelamin di Barat pada tahun 1960-an, utamanya melawan kekerasan seksual dan industri pornografi. Pemahaman penindasan laki-laki kepada perempuan yaitu satu fakta dalam sistem masyarakat yang sekarang ada. Dan gerakan ini yaitu layak namanya yang “radikal”.
Aliran ini bertumpu pada pandangan bahwa penindasan kepada perempuan terjadi akibat sistem patriarki. Tubuh perempuan merupakan objek utama penindasan oleh kekuasaan laki-laki. Oleh karena itu, feminisme radikal mempermasalahkan antara lain tubuh serta hak-hak reproduksi, seksualitas (termasuk lesbianisme), seksisme, hubungan kuasa perempuan dan laki-laki, dan dikotomi privat-publik. “The personal is political” menjadi gagasan anyar yang mampu menjangkau permasalahan prempuan hingga ranah privat, masalah yang dianggap paling tabu untuk diangkat ke permukaan. Informasi atau pandangan buruk (black propaganda) banyak ditujukan kepada feminis radikal. Padahal, karena pengalamannya mengungkap masalah-masalah privat inilah Indonesia ketika ini mempunyai Undang Undang RI no. 23 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT).
c.    Feminisme post modern
Ide Posmo – berdasarkan anggapan mereka – ialah ide yang anti absolut dan anti otoritas, gagalnya modernitas dan pemilahan secara berbeda-beda tiap fenomena sosial karena penentangannya pada penguniversalan pengetahuan ilmiah dan sejarah. Mereka berpendapat bahwa gender tak bermakna identitas atau struktur sosial.
d.    Feminisme anarkis
Feminisme Anarkisme lebih bersifat sebagai suatu paham politik yang mencita-citakan masyarakat sosialis dan menganggap negara dan sistem patriaki-dominasi lelaki yaitu sumber permasalahan yang sesegera mungkin seharusnya dihancurkan.
e.    Feminisme Marxis
Aliran ini memandang masalah perempuan dalam kerangka kritik kapitalisme. Asumsinya sumber penindasan perempuan berasal dari eksploitasi kelas dan cara produksi. Teori Friedrich Engels dioptimalkan menjadi landasan aliran ini—status perempuan jatuh karena adanya konsep kekayaaan pribadi (private property). Kegiatan produksi yang semula bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sendri berubah menjadi keperluan pertukaran (exchange). Laki-laki memegang produksi untuk exchange dan sebagai konsekuensinya mereka mendominasi hubungan sosial. Padahal perempuan direduksi menjadi bagian dari property. Sistem produksi yang berorientasi pada keuntungan mengakibatkan terbentuknya kelas dalam masyarakat—borjuis dan proletar. bila kapitalisme tumbang maka struktur masyarakat bisa diperbaiki dan penindasan kepada perempuan dihapus.
f.       Feminisme sosialis
Sebuah faham yang berpendapat “Tak Ada Sosialisme tanpa Pembebasan Perempuan. Tak Ada Pembebasan Perempuan tanpa Sosialisme”. Feminisme sosialis berjuang untuk menghapuskan sistem pemilikan. Lembaga perkawinan yang melegalisir pemilikan pria atas harta dan pemilikan suami atas istri dihapuskan seperti ide Marx yang menginginkan suatu masyarakat tanpa kelas, tanpa pembedaan gender.
g.    Feminisme postkolonial
Dasar pandangan ini berakar di penolakan universalitas pengalaman perempuan. Pengalaman perempuan yang hidup di negara dunia ketiga (koloni/bekas koloni) berbeda dengan prempuan berlatar belakang dunia pertama. Perempuan dunia ketiga menanggung beban penindasan lebih berat karena selain mengalami pendindasan berbasis gender, mereka juga mengalami penindasan antar bangsa, suku, ras, dan agama. Dimensi kolonialisme menjadi fokus utama feminisme poskolonial yang pada intinya menggugat penjajahan, bagus fisik, pengetahuan, nilai-nilai, cara pandang, ataupun mentalitas masyarakat. Beverley Lindsay dalam bukunya Comparative Perspectives on Third World Women: The Impact of Race, Sex, and Class menyatakan, “hubungan ketergantungan yang didasarkan atas ras, Tipe kelamin, dan kelas sedang dikekalkan oleh institusi-institusi ekonomi, sosial, dan pendidikan.”
h.    Feminisme Nordic
Kaum Feminis Nordic dalam menganalisis sebuah negara amat berbeda dengan pandangan Feminis Marxis ataupun Radikal.Nordic yang lebih menganalisis Feminisme bernegara atau politik dari praktek-praktek yeng bersifat mikro. Kaum ini menganggap bahwa kaum perempuan “seharusnya berteman dengan negara” karena kekuatan atau hak politik dan sosial perempuan terjadi melalui negara yang didukung oleh kebijakan sosial negara.[4]
Pembangunan Mindset Perempuan Di Lingkup Teknik
Pikiran kita yaitu segalanya. Lingkungan kampus membentuk pola pikir (mindset), suasana hati, sikap dan kebiasaan kita. Itulah sebabnya mengapa ketika kita akan memulai memimpin perubahan, keberhasilannya akan secara langsung tergantung pada perubahan mindset masing-masing anggota tim kita. Boleh jadi seorang pemimpin menghabiskan milyaran rupiah dan ribuan jam untuk Mengerjakan reorganisasi dengan teknologi terbaru dan terbesar, namun bila orang-orang didalamnya tak mengubah pola pikir dan kebiasaan mereka, hasilnya akan mudah kita tebak? Tentu saja dengan moral kerja yang rendah, pengorbanan uang dan waktu menjadi sia-sia belaka. Dengan demikian, keterampilan yang paling besar dibutuhkan pada ketika ini oleh seluruh pemimpin dan tim kerja, yaitu kesanggupan untuk mengubah dan mengelola mindset. Adapun hal pertamakali yang perlu dipahami yaitu bagaimana   pola pikir kita terbentuk.
Pemimpin Ideal Berdasar 4 Kriteria Utama, berikut ini:
1.  Benar dan mempunyai KesungguhanBenar dalam artian senantiasa berperilaku dan bekerja di track yang berlandaskan kebenaran, serta senantiasa mempunyai kesungguhan dalam bersikap. Tak jarang beberapa di antara kita memilih pemimpin berdasarkan kesuksesan yang diraihnya, atau bahkan karena banyaknya harta calon pilihan, akan tetapi bagaimana si calon hal yang demikian mendapat kesuksesan dan kekayaan sama sekali tak diperhitungkan. Bisa jadi seluruh kesuksesan yang diperoleh dengan cara yang tak halal. Oleh karena itu dengan senantiasa berjalan di atas jalan kebenaran dan mempunyai kesungguhan dalam mewujudkan kebenaran hal yang demikian, bisa di jadikan salah satu kriteria utama dalam mencari pemimpin yang tepat.
  1. bisa Dipercaya. Orang yang dipilih ketahuan korupsi? menggunakan wewenang untuk memperkaya diri sendiri atau kerabatnya? kejadian ini kerap kita jumpai dalam sosok pemimpin gagal di Indonesia, oleh karena itu memilih orang yang bertanggung jawab penuh dengan tugasnya, dan tak menyalahgunakan wewenang yang diberikan, tentunya menjadi syarat utama yang seharusnya ada dalam diri seorang calon pemimpin.
  2. Cerdas. Kriteria utama lainnya yang wajib dimiliki oleh sosok pemimpin yaitu, mempunyai kecerdasan. Bukan hanya sekedar cerdas (pintar) dalam hal akademik, namun juga cerdas dalam mengambil keputusan, bisa mencari jalan keluar dari masalah yang dijumpai dengan kesanggupan menganalisa dan memecahkan masalah akan menjadi landasan untuk memilih pemimpin yang ideal.
  3. Jujur Dan Bertanggung Jawab. Siapa sih yang mau dipimpin dengan orang yang suka PHP (Pemberi Harapan Palsu), atau sering mengingkari ucapan dan janjinya. Pastinya kejujuran dan mampu bertanggung jawab dengan apa yang diucapkan (dijanjikan), yaitu syarat mutlak yang seharusnya melekat dalam diri seorang pemimpin.
Dengan 4 kriteria di atas, diharapkan agar kita tak lagi salah dalam memilih calon pemimpin, dan juga bisa menjadi panduan untuk menetapkan seseorang yang pantas dijadikan pemimpin. Selain kriteria utama hal yang demikian, terdapat pula panduan wajib untuk memilih pemimpin, yang disebutkan dalam hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, diriwayatkan oleh Bukhari (6015) :
 “bila amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.
Ada seorang sahabat bertanya     : bagaimana maksud amanat disia-siakan?
Nabi menjawab  :bila urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, makatunggulah kehancuran itu” 

Demikian materi Sejarah Pergerakan Wanita Indonesia yang smpat kami berikan, jangan lupa juga untuk membaca materi tentang Sejarah Awal Mula Berdirinya Candi Borobudur