Sejarah Pergerakan Mahasiswa

Sejarah Pergerakan Mahasiswa – Ada peran-peran yang seharusnya dikerjakan sebagai konsekuensi logis dan konsekuensi otomatis dari identitas mahasiswa itu sendiri, diantaranya yang pertama peran moral mahasiswa dalam kehidupannya sebagai kaum intelektual muda. jikalau hari ini aktifitas mahasiswa berorientasi pada hedonisme (hura-hura) maka berarti telah menyimpang. jikalau hari ini mahasiswa lebih suka mengisi waktu dengan agenda-agenda personal seperti pacaran, nongkrong di Mal tanpa ingin tahu tentang keadaan sosialnya, jikalau pada hari ini mahasiswa lebih mementingkan individu dengan segala kepentingannya tanpa memperhatikan sekelilingnya (realitas objektif) maka mahasiswa semacam ini ialah potret “generasi yang hilang” yaitu generasi yang terlena dan lupa akan tanggung jawabnya sebagai seorang mahasiswa.


Sejarah Pergerakan Mahasiswa
Sejarah Pergerakan Mahasiswa
Yang kedua peran sosial, dimana mahasiswa dalam hal ini seharusnya menumbuhkan jiwa-jiwa sosial yang dalam (solidaritas sosial). Solidaritas yang tak dibatasi oleh sekat-sekat kelompok, namun solidaritas sosial yang universal secara menyeluruh serta bisa melepaskan keangkuhan. Dalam peran ini hakekatnya mahasiswa tak membiarkan begitu saja penindasan yang terjadi disekelilingnya, penindasan yang dikerjakan kaum pemangku puncak kuasa untuk meruntuhkan eksistensi kaum marginal yang hingga-hingga rela mengembik untuk mempertahankan eksistensi diri.
Yang ketiga peran politik, mahasiswa hakekatnya mampu menciptakan kesinambungan politik yang dinamis dan berdasar pada keadaan objektif (rakyat) dalam menjalankan kehidupannya sebagai bagian dari rakyat. Pasca reformasi tahun 1998, peran politik mahasiswa sebagai kaum terpelajar dinamis yang penuh kreatifitas seakan bergejolak kembali dikala sebelumnya terbelenggu oleh pemerintahan yang otoriter dimana membatasi ruang gerak demokrasi. Dalam peran ini kadang mahasiswa dibutakan oleh hal-hal duniawi (uang) ataupun suatu ideologi sempit yang bisa membutakan mata sehingga berperilaku secara subjektif dalam menjalankan segala kepentingannya.
Ketiga peran ini seharusnya sinergis berpadu dengan peran akademik mahasiswa sebagai bagian dari ruang pembelajaran kaum intelektual muda. Dimana kadang realitas sekarang menjadi dilema, dalam artian banyak mahasiswa yang hobinya kuliah namun tak mau tahu tentang segala hal berkenaan dengan kehidupan sosial politiknya, sehingga banyak anggapan berilmu untuk dirinya sendiri (Percuma!!).
Mahasiswa seharusnya tahu apa yang seharusnya dikerjakan untuk mengatasi problematika vertikal ataupun horizontal yang ada disekelilingnya. Dengan bertolak pada keadaan yang riil, menjadikannya mampu berperilaku dan mengambil peran penting sebagai hakekat dari pemegang identitas agent of change ataupun director of change.
Gerakan mahasiswa seharusnya terus mereformasi diri, menambal lubang-lubang kelemahan dan keluar dari jebakan pikiran konvensional untuk mencari solusi kritis.
Ada empat model gerakan yang bias ditawarkan untuk menghadapi tantangan hari ini:
1.    Gerakan intelektual, sebagai seorang intelektual maka yang seharusnya dikerjakan yaitu dengan kerja-kerja intelektual pula. Seperti seminar, diskusi, kelompok kajian dan penerbitan karya-karya ilmiah.
2.    Gerakan cultural, mahasiswa seharusnya membumi dan bekerja bersama rakyat, misalnya advokasi dan kegiatan bersama.
3.    Gerakan structural, bekerjasama dengan Negara untuk menyokong kerja-kerja gerakan yang ada.
4.    Gerakan massa, ketika aspirasi tak lagi didengar, maka aksi massa menjadi alat yang sah dalam penyampaiana aspirasi.
A. Ilustrasi Tentang Perkembangan Gerakan Mahasiswa
Murid-murid STOVIA mencoba memulai gerakan dengan mendirikan Trikoro Dharmo pada tahun 1915. Organisasi-organisasi yang tumbuh kemudian ialah juga organisasi pemuda kedaerahan (Jong Sumatera, Jong Celebes, Jong Minahasa, dsb.) dan belum tercipta konsolidasi. Baru dengan prakarsa Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), beberapa organisasi kedaerahan dilebur menjadi Indonesia Muda (IM) pada tahun 1930.
Tahun 1915-1930merupakan waktu yang cukup panjang bagi pemuda dan pelajar untuk memilki penjelasan yang lebih jernih tentang nasionalisme yang melekat pada organisasi Indonesia Muda dan melepaskan dirinya dari keorganisasian sektarian pemuda dan mahasiswa guna mempertajam orientasi anti-kolonial. Selain itu juga gerakan ini telah melewati masa-masa sulit: kelumpuhan pergerakan nasional akibat pemerintahan kolonial yang semakin represif, setelah pemberontakan PKI 1926 dan 1927 serta pemogokan-pemogokan buruh.
Di dalam ditelaah kelumpuhan pergerakan nasional seperti itu muncullah alternatif Kelompok Studi (Studie-studie Club) yang politis dilihat dari orientasi dan tindakan politiknya. Analisa kepada Studie Club terang memberikan kesimpulan bahwa ditelaah obyektif ekonomi politik pada dikala itu politik kolonial yang semakin represif, yang kemudian berubah menjadi liberal karena perubahan status ekonomi Belanda dan Hindia Belanda bisa direspon dan distimulasi oleh ditelaah subyektif studie club yang bertransformasi menjadi sebuah partai.
Pada masa penjajahan Jepang organisasi pemuda yang ada dibubarkan dan pemuda dimasukkan ke dalam; Seinen dan Keibodan(Barisan Pelopor) dan PETA (Pembela Tanah Air) untuk dididik politik untuk kepentingan fasisme. Yang menjadi topik menarik pada jaman ini ialah ramainya bermunculan Gerakan Bawah Tanah (GBT) dengan rapat-rapat gelap, dan penyebaran pamflet. GBT ini dikombinasikan dengan gerakan legal Sukarno; merupakan jalan keluar yang logis bagi perlawanan anti fasis. Suatu jalan keluar yang mencekam dan tak memassa. Tingkat kesadaran massa untuk mengambil jalan keluar ini belum mencapai tingkat yang revolusioner.
Masa 1945-1950merupakan momentum yang penting dalam gerakan pemuda dan pelajar: selain melucuti senjata Jepang, juga memunculkan organisasi-organisasi seperti: Angkatan Pemuda Indonesia (API), Pemuda Republik Indonesia (PRI), Gerakan Pemuda Republik Indonesia (GERPRI), Ikatan Pelajar Indonesia (IPI), Pemuda Putri Indoensia (PPI) dan banyak lagi. Pada dikala belum ada organisasi pemuda dan pelajar, yang berbentuk federasi, diselenggarakan Kongres Pemuda seluruh Indonesia I (1945) dan II (1946). Dan Gerakan Pemudalah yang berhasil mendesak Soekarno-Hatta melalui penculikan untuk segera memproklamirkan Kemerdekaan RI.
jangka waktu Demokrasi Liberal 1950-1959 ternyata tak memberikan pendidikan politik yang berarti bagi mahasiwa. Pertemuan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) dalam bulan Desember 1955 di Bogor PPMI memutuskan untuk menarik keanggotaannya dari FPI. Dengan demikian jelaslah bahwa keanggotaan PPMI dan FPI yang secara sosiologis bisa memberikan dimensi lingkungan sosial yang lebih luas, dihindari oleh gerakan mahasiswa. Mahasiswa justru melumpuhkan akstivitas politik mereka. Kemudian membius diri dengan slogan-slogan “Kebebasan Akademik” dan “Kembali ke Kampus”. Mahasiswa lebih aktiv dalam kegitan rekreatif, perploncoan, dan mencari dana.
Persiapan Pemilu 1955gerakan mahasiswa kembali mendapat momentumnnya. Pada dikala itu berdiri organisasi mahasiswa yang berafiliasi ke partai, seperti Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang berafilsi dibawah PNI, Gerakan Mahasiswa Sosialis Indonesia (GMS/GERMASOS) dengan PSI, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan Masyumi, Concentrasi Gerakan Mahasiawa Indonesia (CGMI) dengan PKI.
Pada tanggal 28 Februari 1957, aktivis-aktivis mahasiswa yang berbasis di UI berprakarsa menggalang senat-senat mahasiswa dari berjenis-jenis universitas dan berhasil membentuk federasi mahasiswa yang bernama Majelis Mahasiswa Idonesia (MMI). Sementara itu peran militer dalam negara terus mengalami perluasan sejak akhir 1950-an.
Depolitisasi gerakan pemuda dan mahasiswa bermula dari penandatanga nan kerja sama antara pemuda dan Angkatan Darat 17 Juni 1957. Eskponen gerakan sosialis dan HMI diikut sertakan dalam kesibukan-ak stivitas di luar kampus. Sejak awal 1959 mereka telah mengukuhkan hubungan dengan administratur-administratur militer yang berhubungan dengan urusan pemuda dan mahasiswa. Jadi bukan hal yang aneh bila pada tahun 1966 mahasiswa-mahasiswa Bandung ialah yang paling militan berdemonstrasi mengulingkan Soekarno. Sementara itu Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) dibubarkan dengan tuduhan terlibat usaha pembunuhan atas Soekarno.
GMNI, CGMI dan GERMINDO kemudian membentuk Biro Aksi Mahasiwa dan menyelengarakan Kongres kelima PPMI di Jakarta Juli 1961. Pada dikala yang sama GERMASOS dan HMI berhasil masuk ke dalam organisasi-organisasi lokal di Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya. Dalam tahun 1961, organisasi-organisasi lokal hal yang demikian membentuk Sekretariat Organisasi Mahasiswa Lokal (SOMAL). Dalam banyak kesempatan SOMAL senantiasa menegur PPMI agar jangan terlalu terlibat dalam isu politik. Orang akan bisa membaca dalam pernyataan-pernyataan SOMAL, ada semacam hubungan antara aspirasi SOMAL dengan aspirasi senat-senat mahasiswa yang tergabung dengan MMI.
Sehubungan dengan insiden rasial di Bandung, Mei 1963, konsulat PPMI Bandung mengeluarkan pernyataan: Bahwa yang hakekatnya terjadi bukanlah bermotifkan rasial, akan tetapi merupakan isu sosial yang diakibatkan gap antara si kaya dan si miskin yang semakin dalam. Keadaan ini dimanfaatkan oleh MMI, mereka bergabung dengan organisasi pecahan PPMI Bandung dan medirikan Majelis Permusywaratan Mahasiswa Indonesia (Mapemi) pada bulan Agustus 1965. Haruslah dicatat dalam eksekutif MMI terdapat perwakilan dari Akademi Hukum Militer (AHM) dan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), sehingga tak mengherankan bila kepemimpinannya dipegang oleh perwira tingkat menengah AD dan kepolisian.
Dalam masa ini orientasi gerakan mahasiswa yang sudah mulai membaik dalam mengugat hubungan sosial kapitalisme, fasisme, imperialisme, dan sisa-sisa feodalisme dikalahkah oleh kesiapan militer (yang masuk dalam gerakan pemuda mahasiswa dan partai-partai sayap kanan). Jadi Gerakan Mahasiswa jangka waktu 66 bisa dikatakan Gerakan Mahasiswa yang tak sepenuhnya berpihak pada rakyat. Sebelum tahun 1970-an aktivis yang mula-mula sadar akan kekeliruan ini ialah Soe Hok Gie dan Ahmad Wahib (HMI).
Namun seperti juga generasi baru aktivis-aktivis mahasiswa dan pemuda tahun 70-an lainnya yang mulai menyadari kekeliruan strategi mereka kembali membuat kekeliruan strategi lainnya: terpisah dari potensi kekuatan rakyat, atau tanpa basis kekuatan massa yang luas, demostrasi TMII; anti-korupsi; Golput; Malari; dan gerakan ’78 dengan Buku Putihnya merupakan Figur-Figur keterasingan dan frustasi. Jadi pada jangka waktu 74-78 bisa dikatakan Gerakan Mahasiswa mengalami kegagalan karena gerakan hal yang demikian kurang berinteraksi dengan massa rakyat.
Pada tahun 1980-an, tawaran LSM, literatur populis dan ada juga sedikit yang struktural secara khusus yang di Barat, serta belajar keluar negeri merupakan suatu ditelaah objektif yang ditawarkan oleh kapitalisme yang sedang berada pada spot kontradiski ekonomi, politik, dan budayanya produktivitas yang rendah (secara khusus produk yang mempunyai watak nasionalistis), kemiskinan, gap antara kaya dan miskin, pengangguran, konsumerisme, kesenjangan harga dan pendapatan, krisis kepemimpinan, rendahnya kuantitas dan kualitas pendidikan politik, kosongnya dunia pendidikan, keilmuan dan budaya yang nasionalistis dan pro-rakyat, perusakan lingkungan, dekadensi moral, dan sebagainya, yang belum pernah terjadi sedemikian membahayakan dalam sejarah bangsa Indonesia.
ditelaah popularitas LSM, gelar-gelar akademis, teori-teori dan kesimpu lan-kesimpulan ilmu-ilmu sosial (tentang masyarakat Indonesia) yang dipasok dari luar negeri (secara khusus dari Barat) menyuburkan budaya diskusi, penelitian masyarakat dan aksi-aksi sosial kedermawanan dan peningkatan pendapatan. BRAVO! buat menjamurnya kelompok studi (1983) dan LSM, yang direspon mahasis¬wa-mahasiswa moderat. Mereka yang tadinya berkeras menolak jalan aksi-aksi pengalangan massa, dalam waktu relatif cepat berbalik beramai-ramai ikut menyokong apa yang disebut sebagai gerakan “arus bawah”. Yang lebih parah lagi ialah LSM, yang walaupun tak pernah memberikan picu bagi tindakan politik, proses pembusukkannya lebih lamban ketimbang kelompok studi. Sokongan keuangan yang besar, yang terus-menerus mendemoralisasi aktivis-aktivis sosial (bahkan mahasiswa) yang diserap kedalamnya, menyebabkan LSM bertahan dalam wataknya semula.
Tahun 1985 dan seterusnyakebekuan respon masyarakat kepada ditelaah objektif ekonomi, politik, dan budaya yang amat negatif, berhasil oleh gerakan-gerakan mahasiswa, yang para pelakuknya banyak berasal dari kelas menengah ke bawah dan masih sektarian bila diperbandingkan dengan Filipina dan Korea Selatan. Bila dilihat konsolidasi dan isunya, gerakan mahasiswa jangka waktu ini relatif lebih merakyat, berhasil dalam membentuk opini dan lebih kuat dalam bargain politiknya.
Aksi mahasiswa Ujung Pandang (1987) ialah aksi yang baru pertama kalinya dengan turun ke jalan (rally), dengan jumlah massa yang relatif besar, dengan mengambil isu kebijaksanaan pemerintah dalam tata tertib lalu lintas, judi, dan ekspresi kesulitan ekonomi. Aksi ini dihentikan dengan memakan beberapa korban. budaya turun ke jalan ini telah menjadi trend pada dikala ini, Pengerahan massa yang relatif besar pada dikala ini belum tetap pada tujuan politiknya.
Celah-celah kegiatan pers dan tersebarnya mass media kampus, kegiatan-kegiatan diskusi, aksi-aksi yang dipikirkan masak-masak, benar-benar memberikan pengalaman yang berharga, bagus dari segi pematangan, pemahaman, penyatuan pikiran ataupun rekonsolidasi bagi proses selanjutnya gerakan mahasiswa tahun 80-an.
Kontinum gerakan mahasiswa tahun 80-an tampaknya kini lebih menggembirakan. Hingga sekarang mereka bisa merebut opini nasional dan internasional, isunya lebih merakyat, bargain politiknya lebih kuat, bisa menarik simpati rakyat serta tingkat kolaborasi dengan unsur-unsur administrator militer, birokrat, partai, ex-partai, ormas, LSM, kelompok studi, ataupun lainnya boleh dikatakan amat rendah. Namun kontinum hal yang demikian belumlah hingga pada tingkat seperti yang dijelaskan sebelumnya.
Tahun 1990,pada jangka waktu ini Gerakan Mahasiswa kembali mencoba membangun gerakan massa dengan hidupnya kembali kesibukan kampus. Gerakan Mahasiswa turun mengadvokasi kasus-kasus kerakyatan. Tahun 1992 terbentuk Solidaritas Mahasiswa Inndonesia untuk Demokrasi (SMID). Dan kader-kader banyak yang turun kesektor-sektor rakyat, seperti buruh, petani. Kader-kader SMID juga aktif mengadvokasi kasus-kasus kerakyatan, seperti kasus tanah Kedung Ombo, kasus buruh di Surabaya dan Jabotabek. hingga-hingga kader-kader SMID banyak yang diculik dan dibunuh oleh Rejim diktator Orba. Puncaknya ialah Tragedi 27 Juli 1996 yang sempat membuat perlawanan Gerakan Mahasiswa kembali tiarap. Dan kembali Melaksanakan gerakan bawah tanah. namun akibat dari tragedi 27 Juli perlawanan rakyat kepada rejim penindas orba semakin besar, sentimen anti Soeharto amat tinggi.
B. Gerakan Mahasiswa Tahun 1998
Gerakan Mahasiswa 98 munculnya bersifat momentum. Di akhir tahun 1997 Indonesia mengalami resesi ekonomi sebagai nakibat dari kewajiban untuk membayar hutang luar negeri yang sudah mengalami jatuh tempo. pengaruh dari krisis ekonomi di Indonesia yang berkepanjangan ini ialah naiknya harga-harga sembako. Bulan-bulan selanjutnya ditahun 1998 ialah malapetaka bagi rejim Orba. tak seperti yang banyak dibayangkan oleh pakar-pakar politik, perlawanan massa berkembang sedemikian cepat dan masif di hampir seluruh kota-kota besar di Indonesia. Posko-posko perlawanan sebagai simbol perlawanan kepada rejim timbul diberbagai kampus dan dalam kesehariannya posko ini amat disibukkan oleh kegiatan-kegiatan yang politis sifatnya seperti rapat-rapat koordinasi, pemutaran film-filim politik, dll. Tak nampak lagi kultur mahasiswa yang sebelumnya apatis, hedon, cuek, dll. Hampir di tiap-tiap sudut kita bisa menemukan mahasiswa yang berbicara tentang politik, benar-benar sesuatu yang baru!
Gerakan Mahasiswa Tahun 1998
Gerakan Mahasiswa Tahun 1998

Intensitas gerakan ini tak bisa dilepaskan dari ditelaah obyektif yang semakin tak menentu seperti krisis yang tak kunjung usai, tingkat represi yang semakin meningkat mulai dari penculikan aktivis hingga pada pemukulan dan penembakan mahasiswa yang mencoba turun ke jalan. Puncak dari tindakan represi ini ialah dengan ditembaknya 4 mahasiswa Univ. Trisakti pada tanggal 12 Mei 1998. Penembakan ini memicu kemarahan massa rakyat, yang representasinya dikerjakan dalam wujud pengrusakan, penjarahan ataupun pemerkosaan di beberapa tempat di Indonesia. Praktis dalam 2 hari pasca penembakan, Jakarta berada dalam ditelaah yanag tak terkontrol. Mahasiswa kemudian secara serempak menduduki simbol-simbol pemerintahan lembaga legislatif beberapa hari kemudian (18 Mei), yang dikerjakan hingga Soeharto mundur.
wujud-wujud perlawanan Organisasi mahasiswa pada dikala itu ialah membentuk komite-komite aksi ditingkatan kampus dan juga mengajak elemen massa rakyat untuk menuntaskan Rejim Orba. Propaganda-propaganda yang dibangun pada mulanya mengangkat isu-isu ekonomis tentang turunkan harga sembako. Dan meningkat menjadi isu politis yaitu turunkan Soeharto dan cabut Dwifungsi ABRI (untuk isu ini hanya di beberapa kota yang tergolong lebih relatif radikal). Slogan aksi pada dikala itu ialah Reformasi. namun pada dikala itu terjadi perdebatan-perdebatan dikalangan Gerakan Mahasiswa. Perdebatan itu ialah apakah Gerakan Mahasiswa ini Gerakan Moral atau Gerakan Politik.
Tanggal 21 Mei 1998 Gerakan Mahasiswa yang di dukung oleh rakyat mampu melengserkan Soeharto. Tetapi setelah itu GM seperti kehilangan arah dan merasa puas. Padahal yang justru menjadi problema rakyat Indonesia pada dikala itu belum tersentuh. Di tingkat Gerakan Mahasiswa yang terjadi justru polarisasi dalam gerakan dan bukannya tuntasnya agenda-agenda Reformasi atau Revolusi Demokratik.
C. Membangun Kembali Gerakan Mahasiswa
Setelah Soeharto dilengserkan yang naik menggantikannya ialah Habibie yang notabene anak didik Soeharto. Dan masa pemerintahan Habibie ini terang hanya pucuk pimpinan saja yang berubah, tetapi sistim ynag dipakai tetap mempertahankan sistim pemerintahan Orde Baru, Karena Habibie juga bagian dari produk Orba. Sehingga pada tanggal 13 November 1998 pecah peristiwa Semanggi I. Dimana terjadi pembantaian yang dikerjakan aparat keamanan kepada mahasiswa dan massa rakyat yang menolak di adakannya Sidang Istimewa MPR. Banyak jatuh korban dari pihak mahasiswa dan massa rakyat, hingga jatuh korban jiwa karena tindakan kekerasan yang diakibatkan pemukulan dan penembakan yang dikerjakan Pasukan PHH pada dikala itu.
Untuk membangun kembali Gerakan mahasiswa yang teridiolgis dan terang keberpihakannya kepada kelas kaum pekerja diupayakan oleh beberapa kawan mahasiswa pelopor. Beberapa organisasi mahasiswa dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Jogja, Semarang, Solo dan Purwokerto membentuk organisasi tingkat Nasional yang diberi nama FONDASI (Front Nasional Untuk Demokrasi) pada tanggal 5 Februari 1999 di Bandung. FONDASI kemudian melibatkan diri melalui anggota-anggotanya pada tanggal 28 Februari – 5 Maret 1999 diadakan RMNI I di Bali yang dihadiri oleh 53 organisasi dari seluruh Indonesia. Hasilnya ialah aksi serentak tanggal 13 April di kota-kota besar Indonesia. Lalu dilanjutkan pada pertemuan RMNI II di Surabaya yang mengalami jumlah penurunan peserta menjadi 32 organisasi. Namun RMNI I &II hal yang demikian tak menghasilkan kepemimpinan nasional gerakan mahasiswa.
Perdebatan yang terjadi di RMNI I dan II ialah mengenai pemerintahan transisi dan cabut dwifungsi ABRI, dan secara khusus tentang pengambilan momentum pemilu 7 Juni 1999. Apakah momentum Pemilu 7 Juni ini di ambil atau tak. Ada ketakutan jikalau mengangkat isu boikot pemilu, massa rakyat pendukung fanatik partai-partai politik akan memukul gerakan mahasiswa. Namun kenyataannya, hal hal yang demikian tak terjadi.
Akhirnya Fondasi ditambah kelompok-kelompok mahasiswa yang mempunyai kesamaan isu yaitu cabut dwifungsi ABRI, Pemerintahan Transisi, dan kesamaan taktik menghadapi Pemilu membentuk LIGA MAHASISWA NASIONAL Untuk DEMOKRASI (LMND) dalam Kongres Mahasiswa Nasional Pertama di Bogor tanggal 9-13 Juli 1999. Pasca Pemilu Rejim Habibie ingin mensahkan RUU PKB yang dihasilkan oleh DPR. Dan kebijakan ini pun ditolak oleh mahasiswa dan massa rakyat dengan Melaksanakan pelawanan hingga meletuslah peristiwa Semanggi II, Peristiwa ini kembali menimbulkan jatuh korban dipihak mahasiswa dan massa rakyat. Dan akhirnya Rejim Habibie menunda UU Drakula hal yang demikian.
Tanggal 20 Oktober GusDur naik menjadi Presiden dan Megawati menjadi wakilnya. Dan Gerakan Mahasiswa menghadapi Rejim yang terang berbeda dengan Rejim sebelumnya. Ruang-ruang demokrasi memang sedikit terbuka dimasa pemerintahan Abdurahman Wahid ini, namun disatu sisi masih banyak terdapat tindakan kekerasan yang dikerjakan aparat keamanan kepada para demonstran. Rejim GusDur-Mega pun terbukti ternyata tak berpihak pada rakyat karena kebijakan-kebijakan neoliberalnya. Dan yang membuat kecewa lagi Rejim ini pun ikut menyokong dan mencoba menggolkan kembali RUU PKB yang terang-terang sudah memakan korban jiwa hal yang demikian. Ini dikarenakan Rejim GusDur-Mega terlalu banyak kompromi dan tak berani berperilaku tegas kepada sisa-sisa kekuatan lama yaitu sisa Orba dan militer.
Namun disatu sisi ternyata rejim GusDur yang masih bersifat setengah hati dalam menegakkan demokratisasi di Indonesia, mencoba untuk menarik simpati massa dengan menyingkirkan elit-elit politik gadungan dan militer yang pada dikala Pemilu telah mendukungnya. Tentu saja hal ini berakibat pada munculnya konflik diinternal kabinet rejim GusDur. Elit-elit politik gadungan yang disingkirkan oleh GusDur-pun menggunakan berjenis-jenis macam cara bagus itu intra ataupun ekstra parlementer dalam rangka mendelegitimasi rejim GusDur. Gerakan mahasiswa yang ada pada dikala itupun tak luput dari intervensi kepentingan para elit politik gadungan hal yang demikian. Akibatnya terjadi polarisasi antara gerakan yang pro GusDur dengan gerakan yang anti kepada GusDur, beberapa besar dari mahasiswa yang terjebak dalam polemik ini ialah kalangan Badan Eksekutif Mahasiswa [BEM]. Diantaranya yang cukup dominan dalam Melaksanakan aksi-aksi massa ialah Badan Eksekutif Mahasiswa se-Indonesia atau biasa disingkat BEM-sI yang Melaksanakan penolakan kepada GusDur via isu seperti Buloggate dan mengusulkan segera dilakukannya Sidang Istimewa MPR/DPR. Golongan Kedua ialah yang menamakan diri mereka Badan Eksekutif Mahasiswa Indonesia [BEMI] dengan aksi-aksi pendukungan GusDur mereka. dikala inilah mahasiswa mengalami ketidakfokusan isu.
Namun demikian ada golongan diluar itu yang memperhatikan bahwa ada usaha permainan politik oleh sisa-sisa Orde Baru yang manifes dalam partai Golkar serta Militer dibalik ini segala. Analisa ini datang dari golongan gerakan ekstra parlementer seperti LMND, FORKOT, FAMRED, PMII serta beberapa organ sektoral lainnya seperti dari buruh ada FNPBI yang cukup dominan serta dari partai politik PRD, PKB dan komunitas NU-nya. Golongan yang terakhir ini mencoba untuk Melaksanakan aksi-aksi propaganda bahwa permasalahan hakekatnya bukanlah pro-kontra GusDur melainkan adanya bahaya kekuatan ORBA yang mulai bangkit kembali. Isu yang dibawa ialah seperti Bubarkan Golkar, Bubarkan Parlemen. Namun via upaya-upaya licik dari elit politik gadungan –GusDur termasuk didalamnya- maka permasalahan yang lebih esensial ini menjadi kabur dan berakhir dengan kejatuhan GusDur. via mekanisme undang-undang politik yang ada dipilihlah Wakil Presiden pada dikala itu, Megawati untuk menggantikan GusDur. Rejim yang baru ini segera Melaksanakan reshuffle kabinet dalam rangka Melaksanakan power sharing dengan elit-elit politik gadungan seperti PAN, PPP, PBB, GOLKAR, serta militer. Format baru ini telah membentuk sebuah rejim baru Mega-Hamzah –sebagai wakilnya- yang ternyata masih juga melanjutkan kebijakan GusDur yang tak berpihak pada massa rakyat.
D. Gerakan Mahasiswa Kini
Sudah menjadi watak alami dari borjuasi di Indonesia yang pengecut dan senantiasa menghambakan diri kepada kekuatan modal asing. Hal ini tercermin via kebijakan Mega-Hamzah di lanjutkan oleh SBY – JK yang sejak awal menitikberatkan pada pembangunan situasi yang kondusif di dalam negeri untuk menarik investor asing masuk ke Indonesia. Solusi kebijakan ini ternyata pada perkembangannya hanya menambah hutang-hutang baru yang dilimpahkan ke rakyat dan yang terjadi malah krisis berkepanjangan. Salah satu kebijakan dari rejim Mega-Hamzah yang dinilai tak berpihak pada kepentingan rakyat ialah pencabutan subsidi sehingga menibulkan efek domino yang memicu tingkat kenaikan harga bahan pokok. Selain itu di sektor industri terjadi “pengefesiensian” akibat melambungnya harga BBM, konsekuensinya terjadi rasionalisasi besar-besaran kepada buruh pabrik. Akibat dari itu ialah meningkatnya jumlah pengangguran dimana-mana hingga nominal 37 Juta. Belum lagi kebijakan fiskal ekspor dan impor yang memicu tingkat inflasi dan menurunnya pertumbuhan ekonomi hingga 3%. Kebijakan Mega-Hamzah yang paling fatal ialah memberikan konsesi yang begitu besar kepada pihak militer dengan memberikan kedudukan sentral kepada para pejabat militer yang bertanggungjawab pada kasus-kasus pelanggaran HAM dan demokrasi. Hal inilah yang menjawab mengapa terjadi represifitas yang begitu besar kepada gerakan dikala ini oleh aparat.
Gerakan Mahasiswa Kini
Gerakan Mahasiswa Kini

memperhatikan hal ini justru gerakan mahasiswa mengalami kemunduran dan menjadi terpisah dengan basis massa rakyat lainnya. Gerakan mahasiswa malah sibuk dengan isu-isu yang elitis dan cenderung tak fokus. Hanya beberapa saja dari organ gerakan ekstra kampus yang masih mampu mengkonsolidasikan diri dan terus menerus secara tetap Melaksanakan tuntutan kepada rejim. Namun yang terjadi sekali lagi ialah pengulangan sejarah, rejim Mega-Hamzah yang mulanya diharapkan mampu berperilaku lebih demokratis dan populis ternyata malah mempraktekkan kebijakan yang sama dengan jaman Orde Baru berkuasa. Terjadi pemberangusan kepada nilai-nilai demokrasi di gerakan via penangkapan aktivis-aktivis demokrasi, terjadi pengilusian kepada gerakan mahasiswa oleh rejim dengan mengkampanyekan gerakan mahasiswa sebagai gerakan moral semata. Artinya gerakan mahasiswa cukup mengkritisi saja problema yang ada bukannya menjadi kelas transisional kepada kelas yang lain untuk memberikan transformasi kesadaran ke hal yang lebih progresif dan menjelaskan kepada massa akan perlunya rakyat mengambil alih pemerintahan sebagaimana senantiasa dikampanyekan oleh organ-organ pro demokrasi –termasuk LMND.
Gerakan mahasiswa menjadi gagap dalam merespon keadaan krisis ini berbeda dengan sektor massa yang lain; Buruh, Tani, Kaum Miskin Kota yang tanpa dukungan dari mahasiswa-pun ternyata mampu Melaksanakan aksi dalam skala besar. Disinilah peran pelopor gerakan mahasiswa untuk menyatukan kekuatan-kekuatan hal yang demikian menjadi hal yang urgen. Rakyat yang sedang resah membutuhkan sebuah kepeloporan dalam hal kesadaran disini. Memajukan kesadaran ekonomis massa hingga menuju tataran politis ialah konkretisasi kepeloporan yang dimaksud.

Maka dari itu, sudah saatnya sebagai mahasiswa yang memperoleh identitas baru segera bergerak, melangkah kedepan membuat sejarah dan menggoreskan perubahan, bukan sekedar menyandang identitas sebagai mahasiswa yang dibubuhi kesibukan Akademik. Karena kampus bukanlah masyarakat hakekatnya (real society) tetapi merupakan masyarakat semu (virtual society) yang seharusnya kita manfaatkan sebagai wadah pembelajaran sebelum kita menikmati masyarakat yang nyata kedepan. Disini kita bisa berdialektika guna menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.