Sejarah Penemuan Sel

Sejarah Penemuan Sel – Pada mulanya sel diterangkan pada tahun 1665 oleh seorang ilmuwan Inggris Robert Hooke yang telah meneliti irisan tipis gabus melalui mikroskop yang dirancangnya sendiri. Kata sel berasal dari kata bahasa Latin cellula yang berarti rongga/ruangan. Pada tahun 1835, sebelum teori Sel merupakan unit organisasi terkecil yang menjadi dasar kehidupan dalam arti biologis. seluruh fungsi kehidupan diatur dan berlangsung di dalam sel. Karena itulah, sel bisa berfungsi secara autonom asalkan seluruh kebutuhan hidupnya terpenuhi. 

seluruh organisme selular terbagi ke dalam dua golongan besar berdasarkan arsitektur basal dari selnya, yaitu organisme prokariota dan organisme eukariota. Organisme prokariota tak mempunyai inti sel dan mempunyai organisasi internal sel yang relatif lebih sederhana. Prokariota terbagi menjadi dua kelompok yang besar: eubakteria yang meliputi hampir seluruh Tipe bakteri, dan archaea, kelompok prokariota yang betul-betul mirip dengan bakteri dan berkembang-biak di lingkungan yang ekstrem seperti sumber air panas yang bersifat asam atau air yang mengandung kadar garam yang betul-betul tinggi. Genom prokariota terdiri dari kromosom tunggal yang melingkar, tanpa organisasi DNA. 
Sejarah Penemuan Sel
Sejarah Penemuan Sel

Organisme eukariota mempunyai organisasi intraselular yang jauh lebih kompleks, antara lain dengan membran internal, organel yang mempunyai membran tersendiri seperti inti sel dan sitoskeleton yang betul-betul terstruktur. Sel eukariota mempunyai beberapa kromosom linear di dalam nuklei, di dalamnya terdapat sederet molekul DNA yang betul-betul panjang yang terbagi dalam paket-paket yang dipisahkan oleh histon dan protein yang lain. 

jikalau panjang DNA diberi notasi C dan jumlah kromosom dalam genom diberi notasi n, maka notasi 2nC menunjukkan genom sel diploid, 1nC menunjukkan genom sel haploid, 3nC menunjukkan genom sel triploid, 4nC menunjukkan genom sel tetraploid. Pada manusia, C = 3,5 × 10-12 g, dengan n = 23, sehingga genom manusia dirumuskan menjadi 2 x 23 x 3,5 × 10-12, karena sel eukariota manusia mempunyai genom diploid. 

Sejenis sel diploid yaitu sel nutfah bisa terdiferensiasi menjadi sel gamet haploid. Genom sel gamet pada manusia mempunyai 23 kromosom, 22 diantaranya merupakan otosom, sisanya merupakan kromosom genital. Pada oosit, kromosom genital senantiasa mempunyai notasi X, Meski pada spermatosit, kromosom bisa berupa X ataupun Y. Setelah terjadi fertilisasi antara kedua sel gamet yang berbeda kromosom genitalnya, terbentuklah sebuah zigot diploid. Notasi genom yang digunakan untuk zigot merupakan 46,XX atau 46,XY. 

Pada umumnya sel somatik merupakan sel diploid, namun terdapat beberapa perkecualian, antara lain: sel darah merah dan keratinosit mempunyai genom nuliploid. Hepatosit bergenom tetraploid 4nC, sedang megakariosit pada sumsum tulang belakang mempunyai genom poliploid hingga 8nC, 16nC atau 32nC dan bisa Melaksanakan proliferasi hingga menghasilkan ribuan sel nuliploid. Banyaknya ploidi pada sel terjadi sebagai akibat dari replikasi DNA yang tak disertai pembelahan sel, yang lazim disebut sebagai endomitosis. sel menjadi lengkap, Jan Evangelista Purkyně Melaksanakan pengamatan kepada granula pada tanaman melalui mikroskop. Teori sel kemudian dioptimalkan pada tahun 1839 oleh Matthias Jakob Schleiden dan Theodor Schwann yang mengatakan bahwa seluruh makhluk hidup atau organisme tertata dari satu sel tunggal, yang disebut uniselular, atau lebih, yang disebut multiselular. seluruh sel berasal dari sel yang telah ada sebelumnya, di dalam sel terjadi fungsi-fungsi vital demi kelangsungan hidup organisme dan terdapat informasi mengenai regulasi fungsi hal yang demikian yang bisa diteruskan pada generasi sel selanjutnya. 

Struktur sel dan fungsi-fungsinya secara menakjubkan hampir serupa untuk seluruh organisme, namun jalur evolusi yang ditempuh oleh masing-masing golongan besar organisme (Regnum) juga mempunyai kekhususan sendiri-sendiri. Sel-sel prokariota beradaptasi dengan kehidupan uniselular Meski sel-sel eukariota beradaptasi untuk hidup saling bekerja sama dalam organisasi yang betul-betul rapi. 

Perkembangan sel 
Di dalam tubuh manusia, telah dikenali sekitar 210 Tipe sel. Sebagaimana organisme multiselular lainnya, kehidupan manusia juga dimulai dari sebuah sel embrio diploid hasil dari fusi haploid oosit dan spermatosit yang kemudian mengalami serangkaian mitosis. Pada tahap awal, sel-sel embrio bersifat totipoten, tiap sel mempunyai kapasitas untuk terdiferensiasi menjadi salah satu dari seluruh Tipe sel tubuh. Selang berjalannya tahap perkembangan, kapasitas diferensiasi menjadi menurun menjadi pluripoten, hingga menjadi sel progenitor yang hanya mempunyai kapasitas untuk terdiferensiasi menjadi satu Tipe sel saja, dengan kapasitas unipoten. 

Pada level molekular, perkembangan sel dikendalikan melalui suatu proses pembelahan sel, diferensiasi sel, morfogenesis dan apoptosis. Tiap proses, pada mulanya, diaktivasi secara genetik, sebelum sel hal yang demikian bisa mendapatkan sinyal mitogenik dari lingkungan di luar sel. 

Proses pembelahan sel 
Siklus sel merupakan proses duplikasi secara akurat untuk menghasilkan jumlah DNA kromosom yang cukup banyak dan menunjang segregasi untuk menghasilkan dua sel anakan yang identik secara genetik. Proses ini berlangsung terus-menerus dan berulang (siklik) 

Pertumbuhan dan perkembangan sel tak lepas dari siklus kehidupan yang dialami sel untuk tetap bertahan hidup. Siklus ini mengatur pertumbuhan sel dengan meregulasi waktu pembelahan dan mengatur perkembangan sel dengan mengatur jumlah ekspresi atau translasi gen pada masing-masing sel yang menentukan diferensiasinya. 

Fase pada siklus sel 
  • Fasa S (sintesis): Tahap terjadinya replikasi DNA 
  • Fasa M (mitosis): Tahap terjadinya pembelahan sel (bagus pembelahan biner atau penyusunan tunas) 
  • Fasa G (gap): Tahap pertumbuhan bagi sel. 
  • Fasa G0, sel yang baru saja mengalami pembelahan berada dalam keadaan diam atau sel tak Melaksanakan pertumbuhan ataupun perkembangan. keadaan ini betul-betul bergantung pada sinyal atau rangsangan bagus dari luar atau dalam sel. biasa terjadi dan beberapa tak melanjutkan pertumbuhan (dorman) dan mati. 
  • Fasa G1, sel eukariot mendapat sinyal untuk tumbuh, antara sitokinesis dan sintesis. 
  • Fasa G2, pertumbuhan sel eukariot antara sintesis dan mitosis. 
Fasa hal yang demikian berlangsung dengan urutan S > G2 > M > G0 > G1 > kembali ke S. Dalam konteks Mitosis, fase G dan S disebut sebagai Interfase. 

Diferensiasi sel 
Regenerasi sel merupakan proses pertumbuhan dan perkembangan sel yang bertujuan untuk mengisi ruang tertentu pada jaringan atau memperbaiki bagian yang rusak. Diferensiasi sel merupakan proses pematangan suatu sel menjadi sel yang spesifik dan fungsional, Berlokasi pada posisi tertentu di dalam jaringan, dan menunjang fisiologis hewan. Misalnya, sebuah stem cell mampu berdiferensiasi menjadi sel kulit. 

dikala sebuah sel tunggal, yaitu sel yang telah dibuahi, mengalami pembelahan berulang kali dan menghasilkan pola akhir dengan keakuratan dan kompleksitas yang spektakuler, sel itu telah mengalami regenerasi dan diferensiasi. 

Regenerasi dan diferensiasi sel hewan ditentukan oleh genom. Genom yang identik terdapat pada tiap sel, namun mengekspresikan set gen yang berbeda, bergantung pada jumlah gen yang diekspresikan. Misalnya, pada sel retina mata, tentu gen penyandi karakteristik penangkap cahaya terdapat dalam jumlah yang jauh lebih banyak daripada ekspresi gen indera lainnya. 

Morfogenesis 
Pengekspresian gen itu sendiri memengaruhi jumlah sel, Tipe sel, interaksi sel, bahkan lokasi sel. Oleh karena itu, sel hewan mempunyai 4 proses esensial pengkonstruksian embrio yang diatur oleh ekspresi gen, sebagai berikut: 

  • Proliferasi sel menghasilkan banyak sel dari satu sel 
  • Spesialisasi sel menciptakan sel dengan karakteristik berbeda pada posisi yang berbeda 
  • Interaksi sel mengkoordinasi perilaku sebuah sel dengan sel tetangganya 
  • Pergerakan sel menyusun sel untuk membentuk struktur jaringan dan organ 
Pada embrio yang berkembang, keempat proses ini berlangsung bersamaan. tak ada badan pengatur khusus untuk proses ini. tiap sel dari jutaan sel embrio semestinya membuat keputusannya masing-masing, berdasarkan jumlah kopi perintah genetik dan keadaan khusus masing-masing sel. Sel tubuh, seperti otot, saraf, dsb. tetap mempertahankan karakteristik karena masih mengingat sinyal yang diberikan oleh nenek moyangnya dikala awal perkembangan embrio. 

Apoptosis 
Apoptosis merupakan bagian dari perkembangan sel, sel tak bisa mati begitu saja tanpa suatu mekanisme yang tertanam di dalam sel, yang bisa diaktivasi oleh sinyal internal ataupun eksternal. 

Struktur sel 
  • Sel eukariota 
  • Secara biasa tiap sel mempunyai 
  • membran sel, 
  • sitoplasma, dan 
  • inti sel atau nukleus. 
Sitoplasma dan inti sel bersama-sama disebut sebagai protoplasma. Sitoplasma berwujud cairan kental (sitosol) yang di dalamnya terdapat bermacam organel yang mempunyai fungsi yang terorganisasi untuk menunjang kehidupan sel. Organel mempunyai struktur terpisah dari sitosol dan merupakan “kompartementasi” di dalam sel, sehingga memungkinkan terjadinya reaksi yang tak mungkin berlangsung di sitosol. Sitoplasma juga didukung oleh jaringan kerangka yang menunjang wujud sitoplasma sehingga tak mudah berubah wujud. 

Organel-organel yang ditemukan pada sitoplasma merupakan 
  • mitokondria (kondriosom) 
  • badan Golgi (diktiosom) 
  • retikulum endoplasma 
  • plastida (khusus tumbuhan, mencakup leukoplas, kloroplas, dan kromoplas) 
  • vakuola (khusus tumbuhan)