Sejarah Manajemen

Sejarah Manajemen – Manajemen dibutuhkan oleh segala orang, karena tanpa manajemen yang bagus, segala usaha yang dijalankan organisasiakan kurang berhasil. Istilah manajemen berasal dari bahasa Italia meneggiari yang berarti mengendalikan hewan,khususnya kuda. Dalam perkembangannya istilah itu kemudian digunakan untuk mengendalikan organisasi. Keberhasilan suatu organisasi antara lain ditentukan oleh kecakapan manajer untuk mengatur kerja sama hal yang demikian. Kegiatan memimpin, mengatur, mengelola, mengendalikan, mengembangkan kegiatan organisasi merupakan kegiatan manajemen. 

Pada artikel kali ini kami akan membahas tentang Sejarah Manajemen diantaranya;
  • Bagaimana pemikiran awal manajemen?
  • Bagaimana perkembangan manajemen dari masa ke masa?
  • Siapa saja tokoh-tokoh manajemen dunia layak dengan jaman?

Sejarah Manajemen dari Awal Hingga Sekarang
berdasarkan Management Accounting System.com sejarah berawalnya manajemen ada pada sebelum abad ke-20, terjadi dua peristiwa penting dalam ilmu manajemen. Peristiwa pertama terjadi pada tahun 1776, ketika Adam Smith menerbitkan sebuah doktrin ekonomi klasik, The Wealth of Nation. Dalam bukunya itu, ia mengemukakan keunggulan ekonomis yang akan diperoleh organisasi dari pembagian kerja (division of labor), yaitu perincian pekerjaan ke dalam tugas-tugas yang spesifik dan berulang. Dengan menggunakan industri pabrik peniti sebagai Model, Smith mengatakan bahwa dengan sepuluh orang perusahaan peniti bisa menghasilkan kurang lebih 48.000 peniti dalam sehari. Akan tetapi, apabila tiap-tiap orang bekerja sendiri menyelesaikan tiap-tiap bagian pekerjaan, sudah benar-benar hebat bila mereka mampu menghasilkan sepuluh peniti sehari. Smith menyimpulkan bahwa pembagian kerja bisa meningkatkan produktivitas dengan meningkatnya keterampilan dan kecekatan tiap-tiap pekerja, menghemat waktu yang terbuang dalam pergantian tugas, dan menciptakan mesin dan penemuan lain yang bisa menghemat tenaga kerja.

Sejarah Manajemen
Sejarah Manajemen
Peristiwa penting kedua yang memengaruhi perkembangan ilmu manajemen yaitu Revolusi Industri di Inggris. Revolusi Industri menandai dimulainya penggunaan mesin, menggantikan tenaga manusia, yang berakibat pada pindahnya kegiatan produksi dari rumah-rumah menuju tempat khusus yang disebut pabrik. Perpindahan ini mengakibatkan manajer-manajer ketika itu membutuhkan teori yang bisa membantu mereka meramalkan permintaan, memastikan cukupnya persediaan bahan baku, memberikan tugas kepada bawahan, mengarahkan kegiatan sehari-hari, dan lain-lain, sehingga ilmu manajamen mulai dimaksimalkan oleh para spesialis.

Meski berdasarkan Wikipedia, Banyak kesulitan yang terjadi dalam melacak sejarah manajemen, namun diketahui bahwa ilmu manajemen telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Hal ini dibuktikan dengan adanya piramida di Mesir. Piramida hal yang demikian dibangun oleh lebih dari 100.000 orang selama 20 tahun. Piramida Giza tak akan berhasil dibangun apabila tak ada seseorang—tanpa memedulikan apa sebutan untuk manajer ketika itu—yang merencanakan apa yang seharusnya dijalankan, mengorganisir manusia serta bahan bakunya, memimpin dan mengarahkan para pekerja, dan menegakkan pengendalian tertentu guna menjamin bahwa segala sesuatunya dikerjakan layak rencana.

Piramida di Mesir. Pembangunan piramida ini tak mungkin terlaksana tanpa adanya seseorang yang merencanakan, mengorganisasikan dan menggerakan para pekerja, dan mengendalikan pembangunannya.

Gambar 2.1.1 Piramida di Mesir. Pembangunan piramida ini tak mungkin terlaksana tanpa adanya seseorang yang merencanakan, mengorganisasikan dan menggerakan para pekerja, dan mengendalikan pembangunannya.

Praktik-praktik manajemen lainnya bisa disaksikan selama tahun 1400-an di kota Venesia, Italia, yang ketika itu menjadi pusat perekonomian dan perdagangan. Penduduk Venesia mengembangkan wujud awal perusahaan bisnis dan Menjalankan banyak kegiatan yang lazim terjadi di organisasi moderen ketika ini. Sebagai Model, di gudang senjata Venesia, kapal perang diluncurkan sepanjang kanal; pada tiap-tiap perhentian, bahan baku dan tali layar ditambahkan ke kapal hal yang demikian. Hal ini mirip dengan model lini perakitan yang dimaksimalkan oleh Henry Ford untuk merakit mobil-mobilnya. Selain lini perakitan, orang Venesia mempunyai sistem penyimpanan dan pergudangan untuk memantau isinya, manajemen sumber daya manusia untuk mengelola angkatan kerja, dan sistem akuntansi untuk melacak pendapatan dan biaya.

Daniel Wren membagi evolusi pemikiran manajemen dalam empat fase, yaitu pemikiran awal, era manajemen sains, era manusia sosial, dan era modern. 

2.1.1 Sejarah Manajemen di Era Manajemen Ilmiah: 
Era ini ditandai dengan berkembangan perkembangan ilmu manajemen dari kalangan insinyur seperti Henry Towne, Frederick Winslow Taylor, Frederick A. Halsey, dan Harrington Emerson. Manajemen ilmiah, atau dalam bahasa Inggris disebut scientific management, dipopulerkan oleh Frederick Winslow Taylor dalam bukunya yang berjudul Principles of Scientific Management pada tahun 1911. Dalam bukunya itu, Taylor mendeskripsikan manajemen ilmiah yaitu “penggunaan Cara ilmiah untuk menentukan cara terbaik dalam menyelesaikan sesuatu pekerjaan.” Beberapa penulis seperti Stephen Robbins menganggap tahun terbitnya buku ini sebagai tahun lahirya teori manajemen modern. Henry Gantt yang pernah bekerja bersama Taylor di Midvale Steel Company menggagas ide bahwa seharusnya seorang mampu mandor memberi pendidikan kepada karyawannya untuk bersifat rajin dan kooperatif. Ia juga mendesain sebuah grafik untuk membantu manajemen yang disebut sebagai Gantt chart yang digunakan untuk merancang dan mengendalikan pekerjaan.

Manajemen ilmiah kemudian dimaksimalkan lebih jauh oleh pasangan suami-istri Frank dan Lillian Gilbreth. Keluarga Gilbreth berhasil menciptakan micromotion yang bisa mencatat tiap-tiap gerakan yang dijalankan oleh pekerja dan lamanya waktu yang dihabiskan untuk Menjalankan tiap-tiap gerakan hal yang demikian. Era ini juga ditandai dengan hadirnya teori administratif, yaitu teori mengenai apa yang dijalankan oleh para manajer dan bagaimana cara membentuk praktik manajemen yang bagus.

Gambar 2.1.1.1 Frederick Winslow Taylor.
Gambar 2.1.1.1 Frederick Winslow Taylor.
Perkembangan selanjutnya terjadi pada tahun 1940-an ketika Patrick Blackett melahirkan ilmu riset operasi, yang merupakan kombinasi dari teori statistika dengan teori mikroekonomi. Riset operasi, sering diketahui dengan “Sains Manajemen”, mencoba pendekatan sains untuk menyelesaikan masalah dalam manajemen, khususnya di bidang logistik dan operasi. Pada tahun 1946, Peter F. Drucker menerbitkan salah satu buku paling awal tentang manajemen terapan: “Konsep Korporasi” (Concept of the Corporation). Buku ini timbul atas ide Alfred Sloan (chairman dari General Motors) yang menugaskan penelitian tentang organisasi.

2.1.2 Sejarah Manajemen di Era Manusia Sosial
Era manusia sosial ditandai dengan lahirnya mahzab perilaku (behavioral school) dalam pemikiran manajemen di akhir era manajemen ilmiah. Mahzab perilaku tak memperoleh pengakuan luas hingga tahun 1930-an. Katalis utama dari kelahiran mahzab perilaku yaitu serangkaian studi penelitian yang diketahui sebagai eksperimen Hawthrone. Eksperimen Hawthrone dijalankan pada tahun 1920-an hingga 1930-an di Pabrik Hawthrone milik Western Electric Company Works di Cicero, Illenois. Kajian ini mulanya bertujuan mempelajari pengaruh bermacam macam tingkat penerangan lampu kepada produktivitas kerja. Hasil kajian mengindikasikan bahwa ternyata insentif seperti jabatan, lama jam kerja, jangka waktu istirahat, ataupun upah lebih sedikit pengaruhnya kepada output pekerja diperbandingkan dengan tekanan kelompok, penerimaan kelompok, serta rasa aman yang menyertainya. Peneliti menyimpulkan bahwa norma-norma sosial atau standar kelompok merupakan penentu utama perilaku kerja individu.

2.1.3 Manajemen Modern (1940-sekarang)
Tokoh manajemen pada masa ini yaitu Douglas McGregor yang terkenal dengan teori X dan Y. Teori XY ini merupakan salah satu teori perilaku. Teori XY ini diungkap McGregor dalam bukunya, The Human Side Enterprise. Dalam buku ini, diuraikan para manajer atau pemimpin organisasi mempunyai dua Variasi pandangan kepada para pegawai atau karyawan yaitu teori X atau teori Y. 

berdasarkan asumsi teori X dari McGregor ini bahwa orang-orang ini pada hakekatnya yaitu:
  1. Pada dasarnya pegawai tak menyukai pekerjaan, apabila mungkin berusaha menghindarinya.
  2. Karena pegawai tak menyukai pekerjaan, maka mereka seharusnya dipaksa, dikendalikan, atau diancam dengan hukuman untuk mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan.
  3. Para pegawai akan mengelakkan tanggung jawab dan mencari pengarahan yang formal sepanjang hal itu terjadi.
  4. Kebanyakan pegawai menempatkan rasa aman diatas faktor lain yang berhubungan dengan pekerjaan yang akan memperlihatkan sedikit ambisi.
  5. Pekerjaan itu pada hakekatnya seperti bermain bisa memberikan kepuasan kepada orang. Keduanya bekerja dan bermain merupakan aktiva-aktiva fisik dan mental. Sehingga di antara keduanya tak ada perbedaan, jira keadaan sama-sama menyenangka.
  6. Manusia bisa mengawasi diri sendiri, dan hal itu tak bisa dihindari dalam rangka mencapai tujuan-tujuan organisasi.
  7. kecakapan untuk berkreativitas di dalam memecahkan situasi sulit-situasi sulit organisasi secara luas didistribusikan kepada seluruh karyawan.
  8. Motivasi tak saja berlaku pada kebutuhan-kebutuhan social, penghargaan dan aktualisasi diri tetapi juga pada tingkat kebutuhan-kebutuhan fisiologi dan keamanan.
  9. Orang-orang bisa mengendalikan diri dan kreatif dalam bekerja apabila dimotivasi secara tepat.
  10. Dengan memahami asumís dasar teori Y ini, McGregor menyatakan selanjutnya bahwa merupakan tugas yang penting bagi menajemen untuk melepaskan tali pengendali dengan memberikan kesempatan mengembangkan potensi yang ada pada masing-masing individu. Motivasi yang layak bagi orang-orang untuk mencapai tujuannya sendiri sebaik mungkin, dengan memberikan pengarahan usaha-usaha mereka untuk mencapai tujuan organisasi

Meski berdasarkan Wikipedia, Era moderen ditandai dengan hadirnya konsep manajemen kualitas total (total quality management—TQM) di abad ke-20 yang diperkenalkan oleh beberapa guru manajemen, yang paling terkenal di antaranya W. Edwards Deming (1900–1993) dan Joseph Juran (lahir 1904).

Deming, orang Amerika, dianggap sebagai Bapak Kontrol Kualitas di Jepang. Deming berpendapat bahwa kebanyakan permasalahan dalam kualitas bukan berasal dari kekeliruan pekerja, melainkan sistemnya. Ia menekankan pentingnya meningatkan kualitas dengan mengajukan teori lima langkah reaksi berantai. 

Ia berpendapat bila kualitas bisa ditingkatkan, maka: 
  1. Biaya akan berkurang karena berkurangnya biaya perbaikan, sedikitnya kekeliruan, minimnya penundaan, dan pemanfaatan yang lebih bagus atas waktu dan material
  2. Produktivitas meningkat 
  3. Pangsa pasar meningkat karena peningkatan kualitas dan penurunan harga
  4. Profitabilitas perusahaan peningkat sehingga bisa bertahan dalam bisnis 
  5. Jumlah pekerjaan meningkat. 
Deming mengembangkan 14 skor rencana untuk meringkas pengajarannya tentang peningkatan kualitas.
Kontribusi kedua datang dari Joseph Juran. Ia menyatakan bahwa 80 persen cacat disebabkan karena faktor-faktor yang sesungguhnya bisa diatur oleh manajemen. Dari teorinya, ia mengembangkan trilogi manajemen yang memasukkan perencanaan, kontrol, dan peningkatan kualitas. Juran mengusulkan manajemen untuk memilih satu area yang mengalami kontrol kualitas yang buruk. Area hal yang demikian kemudian dianalisis, kemudian diciptakan solusi dan diimplementasikan.

2.2 TOKOH-TOKOH MANAJEMEN DUNIA layak ZAMAN

1. Teori Manajemen Klasik,tokoh-tokohnya yaitu:

· Robert Owen, Bapak manajemen Klasik (1800an)

· Charles Babbage

2. Teori manajemen ilmiah,tokoh-tokohnya yaitu : 

· Frederick Winslow Taylor, Bapak manajemen Ilmiah (1900an)

· Frank Bunker Gilberth dan Lilian Gilberth

· Henry Laurance Gantt

· Harrington Emerson

3. Teori Organisasi Klasik,tokoh-tokohnya yaitu :

· Henry Fayol

· James D. Mooney

· Marry Parker Follet

· Chaster I. Barnard