Sejarah Kemaritiman Indonesia

Nenek moyangku seorang pelaut, gemar mengarung luas samudra…. Penggalan syair lagu itu mengingatkan kebesaran nusantara di masa lalu yang kini hilang. Namun, “Betulkah nenek moyang kita pelaut? Betulkah kita ini bangsa bahari? Betulkah karakter bangsa kita berwawasan maritim?”  Sejak abad ke-9 Masehi, bangsa Indonesia telah berlayar jauh dengan kapal bercadik. Mereka ke Utara mengarungi lautan, ke Barat memotong lautan Hindia hingga Madagaskar, ke Timur hingga Pulau Paskah. Dengan kian ramainya arus pengangkutan komoditas perdagangan melalui laut, mendorong munculnya kerajaan-kerajaan di Nusantara yang bercorak maritim dan mempunyai armada laut yang besar. 


Sejarah Awal Kemaritiman Indonesia

Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan bangsa Austronesia yang kedatangannya ke kepulauan Nusantara ini mulai sejak kira-kira 2000 tahun sebelum masehi. Masa kedatangan mereka itu termasuk dalam jaman neolitikum yang mempunyai dua sub kebudayaan dan dua jalur penyebaran. Pertama, cabang kapak persegi yang penyebarannya bermula dari daratan Asia melalui jalur barat, dengan bangsa Austronesia sebagai pendukung kebudayaan hal yang demikian. Kedua, kebudayaan kapak lonjong, yang penyebarannya melalui jamur Timur, dengan bangsa Papua-Melanesoide sebagai bangsa pendukung kebudayaan hal yang demikian. Penyebaran kedua kebudayaan ini merupakan gelombang pertama perpindahan bangsa Austronesia (termasuk Papua Melanesia) yang akhirnya melebur menjadi Austronesia) ke beraneka daerah atau pulau-pulau di Indonesia. Gelombang perpindahan bangsa Austronesia terjadi pada jaman logam yang membawa Ragam kebudayaan baru yang disebut dengan istilah kebudayaan Dongson. 

Sejarah Kemaritiman Indonesia
Sejarah Kemaritiman Indonesia
Hasil penelitian menginformasikan luasnya bahasa Austronesia, (dari Madagaskar di barat dan Pulau Paska di timur, dan dari Formosa di utara hingga Selandia Baru di Selatan), sehingga bisa disimpulkan, wilayah Indonesia merupakan etape kedua dari perpindahan bangsa Austronesia selanjutnya. Lebih dari itu, bila penyebaran nenek moyang bangsa Indonesia bias mencapai pulau-pulau yang berjarak betul-betul jauh dari asal bangsa itu, dan juga terpisahkan oleh lautan yang luas, bisa dipastikan mereka mempunyai peralatan yang dipergunakan menyebrangi laut, yaitu perahu. Dengan kata lain, nenek moyang bangsa Indonesia merupakan bangsa pelaut, yang tentu saja mempunyai budaya maritime sebagai produk. Sebagai Figur, mereka mempunyai pengetahuan yang cukup tinggi tentang laut, angina, musim, bahkan ilmu falak (perbintangan) sebagai pengetahuan untuk bernavigasi.

Salah satu benda prasejarah yang bisa diperkirakan sebagai petunjuk bahwa bangsa Indonesia terbiasa Mengerjakan kegiatan pelayaran antar pulau, bahkan juga perdagangan, merupakan nekara perunggu. Dari hasil penelitian Heger diketahui adanya beraneka Ragam nekara tipe local dan tipe yang terdapat di daerah daratan Asia Tenggara. Dari hasil penelitian itu diperkirakan bahwa nekara hal yang demikian berasal dari Asia Tenggara yang dibawa oleh suku-suku pendatang yang memasuki beraneka kepulauan di Indonesia. Namun juga bisa sebaliknya, bahwa beberapa dari nekara itu memang dijadikan di Indonesia kemudian dibawa atau diperdagangkan ke daratan Asia Tenggara. Bukti mengenai itu merupakan dengan diketemukannya beraneka cetakan yang dipergunakan untuk pengecoran perunggu, termasuk untuk membuat nekara. bila demikian, maka bisa disimpulkan bahwa kepulauan Indonesia merupakan bagian dari jaringan lalu lintas pelayaran dan perdagangan Asia Tenggara. Sebagai daerah produsen ataupun konsumen, demikian juga sebagai jaringan pelayaran dan perdagangan Asia Tenggara, di Indonesia pada waktu itu, tentu sudah berkembang kelompok masyarakat dengan pranata sosialnya yang berfungsi sebagai alat pengatur pergaulan bermasyarakat.

Sejarah Munculnya Kerajaan Maritim Indonesia

Negara dan bangsa Indonesia dengan karakter social budaya kebahariannya sekarang bukanlah merupakan fenomena baru di nusantara ini. Fakta sejarah menunjukkan kepada kita bahwa fenomena kehidupan kebaharian kekinian, khususnya bidang birokrasi/pemerintahan, pelayaran, dan perikanan merupakan kontinyuitas dari proses perkembangan fluktuatif kehidupan kebaharian masa lalu. Proses perkembangan politik kenegaraan dengan infrastruktur yang fluktuatif hal yang demikian memberi gambaran akan timbul dan menghilangnya secara bergantian kerajaan-kerajaan maritime besar dan kecil dari masa lalu hingga masa Indonesia merdeka. Munculnya kerajaan-kerajaan maritime di Nusantara masa lalu yang berdaulat dengan system pertahanan keamanan yang ampuh, tumbuhnya sector-sektor ekonomi kebaharian terlebih pelayaran dan perikanan, aplikasi pengetahuan dan teknologi kelautan, dan diadakan serta diberlakukannya kebijakan dan hukum/perundang-undangan laut banyak merupakan hasil kreativitas-inovatif internal. segala ini merupakan bukti prestasi masyarakat bahari masa lalu yang semestinya diberi apresiasi setinggi-tingginya oleh anak bangsa Indonesia sekarang. Prestasi mana telah menjadi kristalisasi nilai sejarah yang potensial dijadikan ajuan pembelajaran bagi rekayasa perkembangan kebudayaan dan peradaban bahari Nusantara ini ke depan. Pendayagunaan potensi local yang optimal dan eksternal secara selektif sebagaimana diterapkan di masa lalu kiranya lebih meningkatkan keberdayaan dan wibawa bangsa bahari ini daripada bergantung sepenuhnya pada kekuatan-kekuatan eksternal semata seperti cenderung diterapkan bangsa Indonesia, terlebih sejak masa Orde Baru hingga sekarang ini.

Munculnya secara silih berganti kerajaan-kerajaan-kerajaan maritime nusantara di masa lalu merupakan fakta sejarah tak tersanggahkan kebenarannya. Buku “Sejarah Maritim Indonesia” karya Hakim Benardie SP (2003) mengandung catatan dan gambaran sejarah perkembangan infrastruktur kemaritiman berupa rute pelayaran, perdagangan, serta kegiatan pembangunan galangan kapal dari kerajaan-kerajaan besar Nusantara yang menitik-beratkan pada pembangungan kekuatan maritime. tiap kerajaan atau Negara maritime di Nusantara ini, tentu saja mempunyai strategi pembangunan kekuatan social ekonomi, politik, pertahanan dan keamanan, dan infrastruktur kebaharian (terlebih industry kapalperahu, pelabuhan, dan kota pantai) masing-masing. 

Kerajaan maritim Indonesia :

A. Kerajaan Sriwijaya
Kerajaan Sriwijaya pada dasarnya merupakan suatu kerajaan pantai, sebuah Negara perniagaan dan Negara yang berkuasa di laut. Kekuasaannya lebih disebabkan oleh perdagangan internasional melalui selat Malaka. Dengan demikian berhubungan dengan jalur perdagangan internasional dari dari Asia Timur ke Asia Barat dan Eropa yang sejak paling sedikit lima belas abad lamanya, mempunyai arti penting dalam sejarah. Sriwijaya memang merupakan pusat perdagangan penting yang pertama pada jalan ini, kemudian diganti oleh kota Batavia dan Singapura. berdasarkan berita Cina, kita bisa menyimpulkan bahwa Sriwijaya merupakan salah satu pusat perdagangan antara Asia Tenggara dengan Cina yang terpenting.1 Sriwijaya merupakan kerajaan maritime yang pernah tumbuh menjadi suatu kerajaan maritime terbesar di Asia Tenggara. 

Politik ekspansi untuk mengembangkan sayap dan menaklukkan kerajaan lain di Sumatra dijalankan Sriwijaya secara intensif pada abad ke-7, yaitu pada tahun690 M. kenyataan ini diperkuat dengan adanya prasasti dari kerajaan Sriwijaya, yang semuanya ditulis dengan huruf Pallawa dan dalam bahasa Melayu kuno. Sebagai kerajaan maritime, Sriwijaya menggunakan politik laut yaitu dengan mewajibkan kapal-kapal untuk singgah di pelabuhannya. 

Ketergantungan kerajaan Sriwijaya lebih tergantung dari pola perdagangan yang berkembang, Walaupun pola-pola tertentu tak sepenuhnya bisa dikuasainya. Meskipun demikian, pada abad XIII Sriwijaya masih bisa berkembang sebagai pusat perdagangan dan pelayaran yang besar dan kuat, serta menguasai bagian besar Sumatra, semenanjung tanah Melayu, dan beberapa Jawa Barat.

tak bisa dipungkiri bahwa Sriwijaya sebagai sebuah kerajaan maritime yang besar telah mengembangkan ciri-ciri yang khas, yaitu mengembangkan suatu budaya diplomasi yang menyebabkan kerajaan hal yang demikian lebih metropolitan sifatnya. Dalam upaya mempertahankan peranannya sebagai Negara berdagang, Sriwijaya lebih memerlukan kekuatan militer yang bisa Mengerjakan gerakan ekspedisioner daripada Negara agraris. 

B. Kerajaan Samudra
Sebagai akibat dari merosotnya kerajaan Sriwijaya, di Sumatra Utara timbul beberapa kerajaan maritime kecil. Kerajaan-kerajaan yang terdapat kira-kira tahun 1300 merupakan Samudra, Perlak, Paseh, dan Lamuri (yang kemudian menjadi Aceh). Kerajan-kerajaan pelabuhan ini kesemuanya mengambil keuntungan dari perdagangan di selat Malaka. 

Sekitar tahun 1350 merupakan masa memuncaknya kebesaran Majapahit. Bagi Samudra, masa itupun merupakan masa kebesarnannya. Kerajaan Samudra di Aceh yang beragama Islam menjadi bagian dari Majapahit, rupanya tak menjadi keadaan sulit bagi Majapahit. Begitu pula Samudra, berhubungan langsung dengan Tiongkok, sebagai siasat untuk mengamankan diri kepada Siam yang daerahnya meliputi jazirah Malaka, juga oleh Majapahit tak dihiraukan. 

C. Kerajaan Majapahit
berdasarkan Krom, kerajaan Majapahit ini berdasar pada kekuasaan di laut. Laut-laut dan pantai yang terpenting di Indonesia dikuasainya. Kerajaan ini mempunyai angkatan laut yang besar dan kuat. Pada tahun 1377, Majapahit mengirim suatu ekspedisi untuk menghukum raja Palembang dan Sumatra. Majapahit juga mempunyai hubungan dengan Campa, Kampuchea, Siam Birma bagian selatan, dan Vietnam serta mengirim dutanya ke Cina. 

Sebagai tambahan daerah yang mengakui kekuasaan Majapahit, Prapanca memberikan nama-nama daerah yang tetap mempunyai hubungan persahabatan dengan Majapahit. Daerah itu antara lain Siam, Burma, Champa, dan “Javana” yaitu Vietnam – disamping negeri-negeri yang jauh lagi seperti Cina, Karnatik dan Benggala, yang mengadakan hubungan dagang dengan Majapahit.

Dengan uraian perluasan kekuasaan Majapahit, seperti dijelaskan oleh Prapanca, kita telah menggunakan hipotesa bahwa pelayaran perdagangan pada abad XIV berada di tangan pedagang Majapahit. Artinya pada waktu itu, Majapahit mempunyai kapal-kapal dagang dan menjalankan pelayaran sendiri, disamping pelayaran yang dijalankan juga oleh pedagang asing.

D. Kerajaan Malaka
Malaka merupakan suatu kota pelabuhan besar yang letaknya menghadap ke laut. Posisi seperti ini juga dimiliki oleh kerajaan Maritim lain seperti Banten, Batavia, Gresik, Makassar, Ternate, Manila atau sungai besar yang bisa dilayari. Malaka timbul sebagai pusat perdagangan dan kegiatan Islam baru pada awal abad ke-15. Pendiri kerajaan Malaka merupakan seorang pangeran Majapahit dari Blambangan yang bernama Paramisora. Parameswara berhasil meloloskan diri ketika terjadi serangan Majapahit pada tahun 1377 dan akhirnya tiba di Malaka sekitar tahun 1400. Di tempat ini dia menemukan suatu pelabuhan yang bagus yang bisa dirapati kapal-kapal di segala musim dan Berlokasi di bagian selat Malaka yang paling sempit. Beserta para pengikutnya dalam waktu singkat, dusun nelayan dengan bantuan bajak-bajak laut menjadi kota pelabuhan, yang karena letaknya yang betul-betul bagus di Selat Malaka, merupakan saingan berat bagi Samudra Pasai.

Dengan demikian, Malaka diberi kesempatan berkembang menjadi pusat perniagaan baru. Sebelum itu, Malaka hanyalah merupakan sebuah tempat nelayan kecil yang tak berarti. Pada awal abad ke-14, tempat hal yang demikian mulai berarti buat perdagangan perdagangan, dan dalam waktu yang pendek saja menjadi pelabuhan yang terpenting di pantai Selat Malaka.

Melalui persekutuan dengan orang laut, yaitu perompak pengembara Proto-Melayu di selat Malaka, dia berhasil membuat Malaka menjadi suatu pelabuhan internasional yang besar. Cara yang ditempuh Malaka merupakan dengan memaksa kapal-kapal yang melewati untuk singgah di pelabuhannya serta memberi fasilitas yang cukup bagus serta bisa dipercaya bagi pergudangan dan perdagangan. 

E. Demak : Kerajaan Maritim Islam Pertama di Jawa
berdasarkan Tome Pires, penguasa kedua di Demak, Pate Rodim Sr. mempunyai armada laut yang terdiri dari 40 kapal jung. Pada masa hal yang demikian, beberapa daerah bisa ditaklukkan. Berdasarkan babad, penguasa ketiga merupakan Tranggana atau Trenggana. Raja ini telah meresmikan Masjid Raya di Demak. Dalam berita Portugis menyebutkan, pada tahun 1546 dia gugur dalam ekspedisi ke Panarukan di ujung timur Jawa. Dalam kurun waktu itu wilayah kerajaan telah diperluas ke barat dan ke timur, dan masjid Demak telah dibangun sebagai lambing kekuasaan Islam. Kekuatan Demak terpenting merupakan kota pelabuhan Jepara, yang merupakan kekuatan laut terbesar di laut Jawa. 

Dari gambaran itu menunjukkan bahwa Demak benar-benar kekuatan signifikan di Jawa pada abad ke-16. Pada masa Pati Unuss atau Pangeran Sabrang Lor, tepatnya tahun 1512 dan 1513 dia menyerang Malaka dengan menggunakan gabungan seluruh angkatan laut bandarBandarr Jawa, namun berakhir dengan hancurnya angkatan laut dari Jawa. 

CATATAN SEJARAH PERIKANAN LAUT DI NUSANTARA
Dari perspektif kekuatan social politik dan ekonomi, kaum nelayan di manapun di dunia dari dahulu hingg sekarang memang senantiasa termasuk masyarakat marginal. Sebaliknya dari perspektif social budaya, bagian terbesar dari mereka itulah sesungguhnya dikategorikan sebagai masyarakat bahari sejati. Menggagas laut dan isinya, rekayasa sarana perhubungan (perahu/kapal) untuk akses ke laut dan teknologi pemanfaatan sumberdaya perikanan yang kaya dengan tipenya, dan dinamika pengetahuan sebagai pedoman kegiatan pelayaran dan perilaku eksploitasi sumberdaya laut, justru menjadikan kadar kebaharian kaum nelayan dalam beraneka unsur melebihi kadar budaya kebaharian para pelayar dan saudagar yang memanfaatkan lingkungan laut sebagai prasarana pelayaran ( pelabuhan/dermaga dan rute-rute pelayaran) semata. 

Sejarah kegiatan penangkapan ikan di perairan Nusantara ini juga bisa dilacak jauh ke belakang. Meskipun tingkat-tingkat perkembangan budaya perikanan kurang terkandung dalam catatan sejarah diperbandingkan dengan kegiatan pelayaran (usaha perhubungan laut), namun bisa diduga bahwa kegiatan kenelayanan berupa menangkap ikan dan mengumpulkan biota laut tak liar (kerang-kerangan, tumbuhan laut) tak jauh lebih mudah daripada kegiatan berburu dan meramu di darat, yang mencirikan mode ekonomi subsistem masyarakat sederhana dimana-mana. Adapun pola kegiatan kenelayanan dan mengumpulkan biota laut tak liar diduga sama dengan kalau bukan lebih tua daripada pola kegiatan ekonomi perhubungan antarpulau, apalagi antarnegara dan benua. 

Dari catatan colonial diperoleh keterangan tentang kegiatan-kegiatan nelayan pesisir dan pulau-pulau di Nusantara awal abad ke-20, abad ke-19, dan sebelumnya. Misalnya, komunitas-komunitas nelayan Jawa dan Madura cenderung memusatkan aktivitasnya pada penangkapan ikan layang di perairan pantai utara Jawa dan Madura dengan mengoperasikan perahu-perahu mayang dan menggunakan alat tangkap pukat paying (dalam Lampe, 1989;Masyhuri,1996; Semedi,2000). Penangkapan layang, yang dikategorikan sebagai perikanan laut dalam, menjadi budaya masyarakat nelayan Jawa dan Madura yang bertahan dan diandalkan hingga sekarang. Meskipun ditelaah tangkapan pada waktu itu cukup melimpah, namun hasil produksi ikan belum juga mampu memenuhi kebutuhan konsumen penduduk pantai dan pedalaman Jawa yang betul-betul besar jumlahnya di abad ke-19 dan awal abad ke-20 – berdasarkan penaksiran John G. Butcher (2003), kira-kira seperempat dari penduduk Asia Tenggara yang berjumlah 40 juta jiwa di abad ke-19 tinggal di pulau Jawa. Untuk memenuhi permintaan ikan dari penduduk Jawa, karena itu, masih dibutuhkan impor ikan dari bagian Siapi-api, Sulawesi Selatan, dan pulau-pulau sekitarnya.

Di Sumatra, Bagan Siapi-api (Riau) merupakan pusat penangkapan ikan-ikan pantai terlebih mairo atau lure. Alat tangkap utama ialah pukat halus berbentuk empat persegi dengan ukuran lubang rapat yang dipasang pada pondok tancap (di Sulawesi Selatan disebut bagang tancap). Pengelolaan modal perikanan dikuasai oleh pengusaha-pengusaha keturunan Cina, Walaupun aktivitaspenangkapan dan pengeringan ditangani penduduk nelayan local. Bagian besar dari hasil produksi ikan diekspor ke Jawa dan Singapura, sisanya dipasarkan ke daerah-daerah pedalaman pulau Sumatra sendiri.format usaha perikanan hal yang demikian masih bertahan hingga sekarang dengan peningkatan kualitas bahan pukat dan bagian teknik lainnya. 

Di bagian timur Nusantara, Sulawesi Selatan di masa lalu diketahui juga sebagai pusat produksi ikan dan hasil laut lainnya. Dalam catatan colonial disebutkan Ragam-Ragam komoditas hasil laut tua selain ikan yang diusahakan oleh nelayan Sulawesi Selatan seperti teripang, kerang mutirara, penyu, sirip hiu, telur ikan, agar-agar, akar bahar dan rotan laut, dan ikan bandeng (budidaya tambak). Di daerah hal yang demikian terdapat empat kelompok etnis yaitu Bugis, Makassar, Mandar dan Bajo, yang nelayannya cenderung mengkhususkan tangkapannya pada satu atau lebih Ragam sumberdaya perikanan. Misalnya, nelayan Bugis di Teluk Bone banyak Mengerjakan usaha bagang (menangkap ikan campuran berkelompok di perairan pantai); nelayan Makassaar di Galesong mempertahankan usaha ikan terbang dan telur ikan; nelayan Mandar dengan usaha panjak-rumpon (menangkap ikan layang dengan pukat payang dan sarana bantu rumpon) dan usaha ikan terbang dan telur ikan; dan Bajo dengan usaha selam (usaha teripang, kerang, dan biota tak liar lainnya) dan usaha pancing. Sebetulnya beberapa nelayan Bugis dan Makassar dan kebanyakan nelayan Bajo di Sulawesi Selatan tetap mempertahankan usaha selam (mencari teripang dan kerang mutiara) hingga sekarang, meskipun populasi dari kedua Ragam hasil laut hal yang demikian dalam perairan territorial dan nusantara semakin berkurang. 

berdasarkan catatan colonial, usaha-usaha nelayan Bugis, Makassar, dan Bajo pada komoditas hasil laut tua sudah mengalami perkembangan di abad ke-17 kalau bukan sejak abad sebelumnya (Macknight, 1976; Sutherland, 1987; Reid, 1992). Daerah penangkapan (fishing grounds) mereka bukan hanya mencakup selat Makassar, Teluk Bone, dan Laut Flores, tetapi diperluas ke perairan Maluku dan Irian Barat, kea rah selatan hingga NTT dan bahkan hingga ke perairan pantai utara Australia, dan ke arah barat mulai dari perairan Kalimantan Selatan, perairan pantai Sibolga, Nias, dan Mentawai bagian barat Sumatra Utara.

Di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara, usaha perikanan tongkol, tuna, dan ekor kuning dimulai dalam masa pendudukan Jepang dan mengalami perkembangan setelah kemerdekaan. Usaha ikan dasar (kerapu, kakap, baronang, tenggiri) dan lobster segar mulai berkembang dalam jangka waktu 1980-an. Usaha lobster dan ikan hidup (kerapu, kakap, napoleon) yang prospektif baru dimulai sejak akhir tahun 1980-an dan Berjaya dalam jangka waktu 1990-an (Akimichi, 1996; Tim Social Assesment COREMAP 10 Propinsi di Indonesia, 1996/1997; 1997/1998). Sebetulnya, berdasarkan cerita nelayan generasi tua di Sulawesi Selatan, usaha ikan berukuran sedang (ikan terbang, layang, Ragam-Ragam sardine dan makeril), dan ikan karang berkualitas (kakap dan kerapu atau sunu dalam istilah local) sudah diusahakan sejak dahulu di Sulawesi Selatan.

Perkembangan sector perikanan yang cukup berarti di beberapa daerah di Indonesia akhir-akhir ini ialah usaha budidaya rumput laut, ikan kerapu dan lobster, dan kerang mutiara yang dipraktikkan nelayan yang cukup kreatif dan inovatif. Usaha budidaya laut bukan hanya berperanan positif kepada peningkatan pendapatan dan penyerapan tenaga kerja, tetapi juga pada penyusunan kelembagaan penguasaan lokasi laut yang menjamin terjaganya kelestarian lingkungan laut.

Perkembangan beraneka usaha perikanan rakyat hal yang demikian tentu betul-betul diberi pengaruh oleh kekuatan-kekuatan eksternal, terlebih situasi dan ditelaah pasar dan konsumen dalam dan luar negeri. Penangkapan layang oleh nelayan Jawa dan Madura dan usaha ikan kering di bagian Siapi-api merupakan respons masyarakat nelayan kepada permintaan ikan oleh penduduk nelayan Jawa dan Sumatra di daerah perkotaan dan desa-desa pedalaman sejak dahulu. kegiatan nelayan penyelam Bugis, Bajo, dan Makassar merupakan respons kepada pedagang-pedagang Cina dari Peking dan Hongkong yang di masa itu dating langsung ke kota Somba Opu. Produksi ikan tongkol, tuna dan ekor kuning diekspor ke Jepang dan Australia. Lobster segar, ikan dan lobster hidup diekspor ke Hongkong dan Singapura, selain diperuntukkan bagi kalangan elit dan wisatawan asing di Bali, Surabaya, dan Jakarta. Produksi ikan-ikan segar (Ragam-Ragam tongkol, tuna, tenggiri, dan lain-lain) beberapa besar dipasarkan ke Jepang, Kanada, dan Negara-negara tetangga maju lainnya.


CATATAN SEJARAH PENGEMBANGAN PELAYAR DAN NELAYAN
Dalam Mengerjakan aktivitasnya, penduduk bahari, terlebih nelayan dan pelayar, mempunyai mobilitas pengembaraan yang tinggi. Berbeda dengan pelayar yang tujuannya ialah pelabuhan-pelabuhan di kota-kota pantai, nelayan yang memanfaatkan sumberdaya hayati (ikan dan spesies-spesies biota lainnya) tujuannya ialah daerah-daerah penangkapan (fishing grounds) di perairan pesisir dan laut dalam. Kebanyakan kelompok nelayan dari Jawa, Madura, dan Bawean mencari ikan layang hingga di kepulauan Natuna, Selat Makassar, Laut Arafuru, dan Laut Banda. Nelayan pencari telur ikan terbang dari Mandar sejak dahulu menjajah laut laut dalam selama berbulan-bulan hingga ke laut Flores dan Maluku. Nelayan pancing tongkol dan tuna dari Sulawesi Selatan juga mendatangi Laut Flore, Maluku, bahkan sejak tahun 1998 beberapa nelayan Bugis dari Sinjai (Teluk Bone) smpai ke perairan Cilacap menangkap tongkol. Kelompok-kelompok nelayan paling berani mengarungi dan tinggal di lautan selama berbulan-bulan ialah nelayan Bugis dan Bajo (Pulau Sembilan, Teluk Bone), nelayan Makassar (Barranglompo, Kodingang) mencari teripang dan kerang-kerangan ke seluruh perairan Nusantara. Pengembaraan ke wilayah Timur Indonesia, mereka mendatangi NTT, Maluku, Biak, hingga Merauke. Ke arah selatan, mereka mendatangi NTB, kemudian menyebrang ke perairan pantai utara Australia. Bahkan di abad ke-17, dalam pelayarannya kembali ke Makassar nelayan penyelam hal yang demikian melalui perairan pantai barat Papua New Guinea yang kaya dengan mutiara dan teripang. Oleh karena populasi teripang dan spesies-spesies kerang bernilai ekonomi tinggi telah merosot sejak tahun 1980-an, maka kelompok-kelompok pengembara hal yang demikian semakin berkurang jumlahnya. Hal menarik perhatian ialah nelayan Madura (jumlahya tak kurang dari 10 kapal) juga hingga di Teluk Bone mencari Ragam-Ragam teripang yang tak diambil nelayan Bugis dan Bajo.

Berbeda dengan nelayan yang tujuan pengembaraannya terpusat ke daerah-daerah penangkapan (fishing grounds), kemudian ke pelabuhan tau pelelangan ikan untuk tangkapan, dan membeli perbekalan, pelayar dengan armadanya justru menjadikan pelabuhan kota-kota pantai dimana-mana sebagai pusat bongkar muat barang dan penumpang. Bagi mereka, lautan hanyalah merupakan prasarana dan rute-rute transportasi antarkota pantai, antarpulau, antarnegara, dan bahkan antarbenua.