Sejarah Kelompok Santoso (Kelompok Teroris Mujahidin Indonesia Timur)

Sejarah Kelompok Santoso – Kelompok MIT (Mujahidin Indonesia Timur) dipimpin oleh Santoso alias Abu Wardah. Santoso asli orang Jawa, tetapi dikala ini gerakan MTI berada di wilayah hutan gunung Tamanjeka, Poso. Ia merupakan generasi dari jaringan kelompok lama dari sel Abu Umar dan Noordin M. Top. Peranannya dalam jaring kelompok teroris ialah sebagai pemimpin dan instruktur dalam pelatihan paramiliter di beberapa daerah, termasuk pelatihan kelompok Farhan di jalur pendakian Gunung Merbabu Jawa Tengah. dikala ini MIT merupakan sentral dari gerakan jaringan kelompok teroris di Indonesia. Hampir seluruh gerakan teroris merupakan jaringan pendukung MIT. Selain di Poso jaringan MIT tersebar di Jawa, Sumatera dan NTB, sehingga menjadikan MIT sebagai pengganti pemegang kendali perjuangan yang sebelumnya didominasi jaringan Solo.

Poso dijadikan sebagai pusat gerakan MIT berawal dari adanya konflik Poso antara kelompok Muslim dengan Nasrani. Pembantaian kelompok Muslim oleh Nasrani mengakibatkan bangkitnya rasa solidaritas Muslim di daerah lain untuk membantu saudara-saudaranya di Poso. Maka kemudian banyak berdatangan Mujahidin dari berjenis-jenis daerah terutamanya yang beberapa besar dari Jawa untuk berjihad melawan Nasrani. Sejarah konflik hal yang demikian menjadikan Poso sebagai tempat strategis bagi para teroris untuk mengembangkan jaringannya. Perkembangan teroris di kota Poso amat besar karena didukung oleh berjenis-jenis macam bagian sehingga jaringan teroris di Poso ini semakin lama semakin kuat. Poso di jadikan pusat gerakan karena mempunyai medan yang amat mensupport untuk dijadikan tempat pelatihan. Banyak wilayah pegunungan, lembah dan hutan yang strategis untuk latihan dan persembunyian. Poso dijadikan sebagai “tanah suci” atau “tanah jihad” bagi kelompok teroris. Anggota teroris belum dikatakan berjihad kalau belum menginjakkan kakinya di tanah Poso. Keberadaan mereka di Poso bisa bertahan lama sejak dari konflik hingga kini. Pada masa konflik umat Muslim banyak dibantu oleh pejuang Muslim (Mujahidin) yang berasal dari luar untuk memerangi musuh mereka (Nasrani). Kemudian pejuang Muslim yang berasal dari wilayah luar Poso hal yang demikian dianggap sebagai pahlawan oleh para kelompok Muslim di Poso. Hal itu yang dimanfaatkan oleh para teroris untuk menjadikan Poso sebagai “tanah suci” atau tanah idaman mereka dalam Menjalankan doktrin jihad. Selain itu di Poso masih banyak senior-senior jihadis yang dianggap mempunyai pengalaman-pengalaman, seperti merakit bom dan membuat senjata.


Sejarah Kelompok Santoso
Sejarah Kelompok Santoso
Poso juga sempat dijadikan incaran kelompok JI (Jamaah Islamiyah) pimpinan Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir. Kelompok militan yang didirikan di Johor Bahru, Malaysia hal yang demikian pernah mendirikan cabang di wilayah ini. Cabang JI di maksudkan untuk bisa membangun pusat latihan tempur, meski akhirnya niat itu tak terwujud sempurna. Banyak kader-kader utama kelompok JI, seperti Ali Ghufron, Imam Samudra, Dr. Azahari, Noordin M. Top, Amrozi dan generasi di bawahnya terlibat serangkaian bom di Indonesia. JI membentuk Mantiqi Tsalis III yang terdiri dari wilayah; Sabah, Kalimantan Timur, Sumatera Utara, Sulawesi Tengah dan Mindanao. Ketua pertama Mantiqi III ialah Mustafa. Mantiqi III terdiri tiga wakalah; Wakalah Badar meliputi; Sabah, Labuan, dan Tarakan. Kemudian Walakah Uhud meliputi Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah. Wakalah ketiga ialah Wakalah Hudaybiyah di Mindanao sebagai basis latihan perang. Tetapi dikala ini generasi yang baru jauh berbeda, lebih muda dan jaringan luas meskipun tersebar dalam kelompok-kelompok kecil. 

Konflik komunal Poso yang merenggut korban ribuan jiwa semakin membuat wilayah ini jadi basis utama para jihadis Indonesia setelah kerusuhan Maluku Utara dan Ambon mereda. Jauh setelah konflik Poso di damaikan, sisa-sisa kelompok militan masih bertahan dan membuat basis-basis baru. Meskipun aparat sudah berulang kali memburu dan menangkap mereka, tetapi tetap saja kelompok-kelompok militan itu hidup dan berkembang, meskipun dalam kelompok-kelompok kecil. Tulang punggung kelompok ini tetap pemuda-pemuda berasal dari Jawa yang beberapa tahun lalu terlibat dalam konflik Poso. Keberadaan mereka seolah terjaga, karena beberapa warga setempat mendapatkan mereka.

Kelompok MTI sering menjadikan polisi khususnya Densus 88 sebagai target serangan. Mereka mengobarkan perang melawan Densus 88 Antiteror sebagai balasan kepada ikhwan-ikhwan mereka yang telah dizolimi Densus 88 dengan menangkap, menyiksa dan menembak mati. Densus 88 juga dianggap sebagai penghalang utama bagi gerakannya. Pernyataan hal yang demikian juga diungkapkan melalui video yang diunggah di youtobe berjudul “Seruan01”. Video hal yang demikian diunggah melalui akun Al Himmah pada 7 Juli 2013. Tampilan awal video bertuliskan judul “Risalah kepada umat Islam di Kota Poso”, dengan nama dibawahnya Syaikh Abu Wardah Santoso dan bertuliskan kelompok Mujahidin Indonesia Timur. Isi dari video ialah untuk memotivasi para Mujahidin di seluruh Indonesia, khususnya di Poso untuk terus berjuang dan berjihad melawan Densus 88. Santoso menyatakan :

“Antum (kalian) tak perlu ragu ketika menghadapi Densus 88. Antum mesti semangat… Antum telah merasakan bagaimana jahatnya Densus 88 kepada umatnya. Antum tahu Densus 88 membantai saudara-saudara kita di Sulawesi”. 

Memunculkan diri di hadapan publik melalui internet memang sering dikerjakan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur. Santoso ingin menunjukkan bahwa dalam Menjalankan aksi teror dirinya tak sendirian. Motivasinya ialah meminta bantuan teman-teman yang lain di berjenis-jenis tempat. Kemarahan mereka kepada Densus 88 didasari peristiwa tewasnya Nudin teroris di Poso pada 10 Juli 2013.

Kasus terbaru ialah terjadi baku tembak antara pasukan Brimob Polda Sulawesi Tengah dan anggota kelompok MTI di hutan pegunungan Taunca, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, Poso pada Kamis 6 Februari 2014. Dalam peristiwa hal yang demikian satu anggota Brimob, Bharada I Putu Satria Wibawa tewas dikala pasukan berusaha menyergap kelompok bersenjata pimpinan Santoso di sebuah pondok papan kayu. Selain itu dua orang anggota teroris juga tewas, dan dua orang ditangkap dalam keadaan luka-luka. Walaupun sisa komplotan berhasil melarikan diri ke wilayah pegunungan yang lebih tinggi lagi. Lokasi pertempuran berjarak sekitar 50 kilometer dari kota Poso. Sejumlah bahan peledak, bom lontong, peluru dan perbekalan berhasil diamanankan. 

Kasus serupa juga pernah terjadi pada pertengahan Oktober 2012, yaitu dua polisi dibunuh kelompok teroris di Dusun Tamanjeka, Poso dan pada Desember 2012 empat anggota Brimob Polda Sulawesi Tengah tewas ditembak kelompok yang sama dikala patroli pengejaran. Hingga dikala ini polisi belum berhasil menangkap Santoso. Ia sering terkait dan disebut dalam tiap penangkapan teroris di Indonesia, bagus di Poso, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jakarta. Di Poso Santoso memimpin pelatihan dan operasional teror. Salah satu keterlibatannya ialah pada kasus penembakan tiga anggota polisi di bank BCA, Palu pada 25 Mei 2011. Pada bulan Januari 2014 beberapa anggota MTI telah berusaha menyusup di Jawa TImur dan mencoba Menjalankan aksi terorisme di beberapa daerah diantaranya di Tulungagung dan Surabaya.

Gerakan MTI ini mendapat dukungan dari kelompok teroris lain yang terhubung dalam jaringannya. Seperti kelompok Abu Roban (Mujahidin Indonesia Barat / MIB) merupakan sel yang berperan untuk mendapat dana/kekayaan melalui perampokan (fa’i) di berjenis-jenis daerah di Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jakarta. Hasil dari perampokan hal yang demikian beberapa dibelikan persenjataan dan dikirimkan ke Poso untuk mensupport aksi dan pelatihan terorisme. Hasil dari perampokan mencapai Rp. 1,8 Miliyar, yang dirampasnya dari beberapa bank dan toko emas.