Sejarah dan Makna Filosofi Ondel-Ondel

Sejarah dan Makna Filosofi Ondel-Ondel – Bagi yang sudah familier dengan kebudayaan Betawi pasti sudah tak asing lagi dengan yang namanya ondel-ondel. Pasalnya, boneka raksasa ini memang sering berseliweran di jalanan ibu kota ataupun di sebuah pentas kesenian rakyat. Walaupun banyak yang takut dengan boneka raksasa ini, kehadiran ondel-ondel memang menjadi suatu ornamen penting dalam kekayaan budaya Betawi. 


Sejarah dan Makna Filosofi Ondel-Ondel
Ondel-ondel

Karena kita sudah sekian lama memperhatikan dan memperhatikan gerak-gerik ondel-ondel, rasanya memang belum ideal apabila kita tak mengetahui makna filosofis dari ondel-ondel itu sendiri. Apa filosofi hakekatnya dari ondel-ondel ini? 
Ondel-ondel merupakan salah satu kesenian Betawi yang bentuknya seperti boneka raksasa. Biasanya ondel-ondel ditampilkan dalam pesta rakyat khas Betawi. Ondel-ondel sering direpresentasikan sebagai leluhur yang menjaga anak cucunya (penduduk) di suatu desa atau wilayah. 
Boneka Ondel-ondel terbuat dari rangkaian anyaman bambu yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga mudah untuk dipikul dari dalam. Wajahnya memang sengaja di cat merah menyala untuk ondel-ondel pria dan cat putih untuk ondel-ondel wanita. Rambut ondel-ondel ini pun terbuat dari ijuk.

Dilansir dari YuKepocom, penciptaan ondel-ondel dulunya ternyata berfungsi sebagai penolak bala. Dengan direpresentasikannya ondel-ondel sebagai nenek moyang, maka ondel-ondel pun diyakini bisa mengusir para roh jahat yang ingin mengganggu ketentraman umat manusia. Makanya tak heran kalau wajah dan format ondel-ondel memang sedikit menyeramkan hingga membuat beberapa orang begitu takut pada boneka raksasa itu. Seiring perkembangan zaman yang semakin modern, fungsi dari ondel-ondel bukan lagi sebagai penolak bala, melainkan sebagai sebuah kesenian rakyat yang menghibur. 

Pembuatan ondel-ondel juga tak bisa sembarangan. Pada proses pembuatannya biasanya disertai pula ragam sesajen yang berisi rujakan tujuh rupa, bubur merah putih, bunga tujuh rupa, asap kemenyan, dan lainnya. Begitu pun ketika ondel-ondel sudah jadi, semestinya tetap disediakan kemenyan dan sesajen untuk menghindari roh halus bersemayam di dalam boneka raksasa hal yang demikian.

Perawatan ondel-ondel tak hanya hingga di situ. Sebelum dikeluarkan untuk berangkat main, ondel-ondel juga membutuhkan beberapa ritual. Salah satunya merupakan pembakaran kemenyan yang dikerjakan oleh pimpinan rombongan. Ritual ini oleh masyarakat setempat disebut sebagai ‘ngukup’.

Nah, kini kamu sudah tahu filosofi dari ondel-ondel. Semoga bermanfaat.